Menjadi Seorang Baha’i

Apa itu Baha’i?

Baha’u’llah , seperti halnya nabi-nabi sebelumnya, mengajarkan bahwa dalam rangka membangun Kerajaan Tuhan di dunia, hal pertama yang harus dilakukan yaitu membangunnya di dalam hati setiap manusia terlebih dahulu. Untuk benar -benar memahami ajaran Baha’i, pertama kita harus memulainya dengan ajaran Baha’u’llah mengenai perilaku individual, dan mencoba untuk memahami tentang apa artinya menjadi seorang Baha’i sejati.

Menjalani Kehidupan

                Ketika Beliau ditanya pada suatu kesempatan: “Apa itu Baha’i?” Abdu’l Baha menjawab: “Menjadi seorang Baha’i berarti sederhana yaitu mencintai seluruh dunia; mencintai kemanusiaan dan berusaha untuk menjadi bermanfaat; berusaha untuk menciptakan perdamaian universal dan persaudaraan universal.” Dalam salah satu perbincangan Nya di London Beliau mengatakan bahwa seseorang bisa menjadi seorang Baha’i meskipun dia tidak pernah mendengar nama Baha’u’llah. Beliau menambahkan:—

Seseorang yang hidup sesuai dengan ajaran-ajaran Baha’u’llah merupakan seorang Baha’i, walaupun dia tidak mengetahui sama sekali apa itu Baha’i. Disisi lain, seseorang bisa menyebut dirinya seorang Baha’i selama lima puluh tahun, tetapi jika ia tidak pernah menjalani kehidupan seperti Baha’i, dia bukan merupakan seorang Baha’i. Seperti seseorang yang buruk rupa bisa menyebut dirinya tampan, tetapi dengan berkata seperti itu dia tidak berbohong kepada orang lain, karena orang lain tahu bahwa dia seorang yang buruk rupa, dan seperti orang kulit hitam bisa menyebut dirinya putih, dan dia tidak berbohong kepada seorang pun, bahkan kepada dirinya sendiri.

Seseorang yang tidak mengenal Nabi dari Tuhan, maka ia akan seperti tanaman yang tumbuh di tempat yang teduh. Tanaman itu hidup begantung kepada sinar matahari, tetapi tanaman itu mengira bahwa bukanlah matahari yang membantunya hidup. Para Nabi besar adalah matahari spiritual, dan Baha’u’llah adalah matahari di hari yang kita jalani ini. Matahari di hari-hari sebelumnya telah menghangatkan dan menerangi dunia, dan ketika matahari tersebut tidak bersinar lagi dan tenggelam di kala senja, bumi tidak akan menjadi dingin dan mati, karena masih ada sinar dari matahari yang terbit dan bersinar di hari ini, yang dapat mematangkan buah-buahan yang telah mendapatkan sinar dari matahari pada hari sebelumnya.

Pengabdian kepada Tuhan

                Untuk menjalani kehidupan Baha’i dengan sepenuhnya, hubungan yang dekat dan langsung dengan Baha’u’llah sangatlah dibutuhkan, seperti halnya sinar matahari yang membantu bunga lili dan mawar untuk bermekaran. Para Baha’i tidak memuliakan kepribadian Nabi Baha’u’llah, tetapi memuliakan Tuhan yang berwujud di dalam kepribadian Nya. Seorang Baha’i harus sangat menghormati Yesus Kristus dan Muhammad dan seluruh Nabi-Nabi Tuhan terdahulu yang telah membimbing umat manusia, tetapi ia mengakui bahwa Baha’u’llah adalah seorang utusan Tuhan yang membawa pesan untuk zaman baru dimana sekarang kita hidup. Para Baha’i mengakui Baha’u’llah sebagai seorang Guru Besar dunia yang datang untuk meneruskan dan mewujudkan karya para pendahulu Nya.

Pengakuan hanya secara intelektual kepada Agama Baha’i tidak membuat seseorang otomatis menjadi Baha’i. Baha’u’llah menginginkan pengabdian yang sungguh-sungguh dan tulus dari para pengikut Nya. Memang hanya Tuhan seorang lah yang berhak untuk menuntut pengapdian seperti itu, tetapi Baha’u’llah berbicara sebagai seorang utusan Tuhan, dan sebagai seseorang yang menyatakan Kehendak Tuhan.

Para Nabi terdahulu juga telah menjelaskan mengenai hal ini. Kristus berkata: “Jika ada seseorang yang ikut dengan ku, biarkanlah dia mengabaikan dirinya, dan mengangkat salibnya setiap hari, dan mengikuti ku. Untuk siapapun yang menyelamatkan hidupnya akan kehilangan: tetapi siapapun yang bersedia kehilangan hidupnya demi aku, maka dia akan terselamatkan”.

Dengan kata-kata yang berbeda, semua Nabi Ilahi telah membuat permintaan yang sama kepada pengikut Mereka, melalui sejarah telah ditunjukkan dengan jelas, bahwa selama para pengikut agama benar-benar mengabdi maka agama itu telah berhasil berkembang, meskipun dengan seluruh permusuhan duniawi, meskipun terdapat penganiayaan, penderitaan dan kematian syahid para pengikutnya. Di sisi lain, ketika manipulasi agama telah masuk dan merayap ke dalam, dan ketika kepercayaan murni dan tulus telah digantikan hanya dengan “rasa hormat” yang apatis terhadap kredo agama, maka agama tersebut berarti telah membusuk. Agama tersebut telah menjadi modern, dan agama seperti itu telah kehilangan kekuatannya untuk menyelamatkan dan mengubah dan kehilangan kekuatannya untuk membuat keajaiban. Agama yang sejati adalah agama yang belum pernah di modern kan. Jika Tuhan mengizinkan maka sesuatu apapun akan terjadi; benar adanya seperti yang telah dinyatakan oleh Kristus, bahwa “sesaklah pintu, dan sempitlah jalan, yang menuju kepada kehidupan, dan hanya sedikit orang yang bisa menemukannya.”

Pencarian akan Kebenaran

                Baha’u’llah menyerukan keadilan kepada seluruh pengikut Nya dan keadilan tersebut menurut Baha’u’llah adalah:— “Bebasnya manusia dari hal-hal takhayul dan kepalsuan, sehingga dia bisa membedakan Perwujudan Tuhan dengan mata Keesaan, dan mempertimbangkan semua hal dengan pandangan yang tajam”. —Tablets of Baha’u’llah, Words of Wisdom.

Hal ini sangat penting bahwa setiap individu harus mengetahui dan menyadari dengan dirinya sendiri akan Kemuliaan Tuhan yang mewujud di dalam kuil manusia suci  Baha’u’llah, jika tidak maka agama Baha’i untuknya hanya akan menjadi sebuah nama tanpa arti. Seruan para Nabi kepada umat manusia agar manusia selalu membuka mata, bukan menutupnya, menggunakan pemikiran, bukan mengabaikannya. Yaitu melihat dengan jelas dan berpikir dengan bebas, dengan begitu memungkinkan mereka menembus awan prasangka, untuk melepaskan belenggu kepalsuan yang buta, dan mencapai realisasi kebenaran Wahyu Tuhan, bukan menerima dengan mudah percaya.

Akan menjadi sebuah kebutuhan seorang Baha’i untuk menjadi seorang pencari kebenaran yang berani, tetapi ia tidak boleh membatasi pencarian nya hanya kepada hal-hal material. Perspektif spiritual nya juga harus hidup seperti fisiknya. Dia harus menggunakan semua yang telah Tuhan berikan untuk mencari kebenaran, tidak mempercayai apa pun tanpa adanya alasan yang cukup dan valid. Jika hatinya suci, dan pikirannya bebas dari prasangka, seorang pencari yang sungguh-sungguh tidak akan gagal untuk mengenali Kemuliaan Ilahi di dalam apa pun yang mungkin menjadi perwujudan Nya. Baha’u’llah selanjutnya menyatakan:—

Manusia harus mengetahui dengan dirinya sendiri, dan mengetahui hal-hal yang membawa kepada kemuliaan atau kehinaan, kepada rasa malu atau kehormatan, kepada kekayaan atau kemiskinan.—Tablest of Baha’u’llah, Tablet of Tarazat.

Sumber dari semua pembelajaran adalah pengetahuan tentang Tuhan, Kemuliaan-Nya yang tinggi! dan Kemuliaan-Nya yang tinggi itu tidak bisa dicapai, tersimpan melalui pengetahuan tentang Nabi Ilahi NYA.—Tablets of Baha’u’llah, Words of Wisdom.

Seorang utusan adalah manusia yang sempurna, sebuah Teladan mulia bagi Umat Manusia, Buah Pertama dari pohon kemanusiaan. Sebelum kita mengenal Dia, kita tidak akan mengenal kemungkinan sejati yang ada dalam diri kita sendiri. Kristus mengajarkan kita untuk memperhatikan bunga lili, bagaimana mereka bermekaran. Kristus mengatakan bahwa Nabi Sulaiman dengan segala kemuliaan Nya masih kalah dengan bunga lili tersebut. Bunga lili tumbuh dari sebuah bibit kecil yang sangat tidak menarik. Jika kita sebelumnya tidak pernah melihat bunga lili yang sedang mekar, berarti kita belum menatap pada karunia indah yang tak tertandingi dari bunga, dan berarti juga kita belum mengetahui sesuatu yang terkandung di dalam bibit kecil tersebut. Kita mungkin akan membedah bibit kecil itu dan mencari keindahan tersebut, tetapi kita tidak akan pernah menemukan keindahan bunga yang sedang mekar tersebut dengan cara sperti itu, dan hanya tukang kebunlah yang tahu bagaimana cara memekarkan bunga lili itu.

Jadi sebelum kita melihat Kemuliaan Tuhan yang dinyatakan dalam Nabi Nya, kita tidak akan bisa mengerti keindahan spiritual yang ada dalam diri kita sendiri dan di dalam sesuatu yang lain. Tetapi dengan mengenal dan mencintai Utusan Tuhan dan mengikuti Ajaran Nya kita akan dimungkinkan, sedikit demi sedikit, untuk menyadari potensi kesempurnaan di dalam diri kita; lalu, tidak sampai disitu, bahkan arti dan tujuan dari hidup dan jagad raya menjadi jelas bagi kita.

Cinta Kasih Tuhan

Mengenal Nabi dan Utusan Tuhan juga berarti mencintai Tuhan itu sendiri. Jika kita tidak mengenal Utusan NYA kita tidak akan bisa mencintai Tuhan dan sebaliknya. Menurut Baha’u’llah, tujuan penciptaan manusia adalah agar manusia mengenal Tuhan dan memuja NYA. Dia berkata di dalam salah satu Tablet Nya:—

Penyebab penciptaan atas seluruh makhluk adalah cinta, sebagaimana dinyatakan di dalam sebuah kisah tradisi terkenal, “Aku adalah harta yang tersembunyi dan Aku ingin dikenal. Oleh karena itu Aku menciptakan makhluk agar Aku dikenal.”

Dan di dalam Hidden Words Baha’u’llah berkata:—

O Son of Being!

Love Me, that I may love thee. If thou lovest Me not, My love can in no wise reach thee. Know this, O servant.

O Son of the Wondrous Vision!                                                                                                              I have breathed within thee a breath of My own Spirit, that thou mayest be My lover. Why hast thou forsaken Me and sought a beloved other than Me?

Wahai Anak Manusia!

Cintailah Aku, agar Aku dapat mencintai engkau. Jika engkau tidak mencintai Aku, cinta Ku tidak dapat mencapai engkau. Ketahuilah ini, Wahai hamba.

Wahai Anak dari yang Ilahi!

Aku telah meniupkan di dalam diri engkau sebuah napas dari Roh Ku sendiri, agar engkau dapat menjadi kekasih Ku. Mengapa engkau meninggalkan Aku dan mencari cinta lain selain Aku?

Untuk menjadi kekasih Tuhan! Itu adalah tujuan satu-satunya hidup seorang Baha’i. Untuk menjadikan Tuhan sebagai pendamping terdekatnya dan sebagai teman yang paling intim, sebagai Kekasihnya yang tiada tertandingi, yang didalam kehadiran Nya dipenuhi oleh suka cita! Dan mencintai Tuhan berarti mencintai segalanya dan mencintai semua orang, karena semuanya adalah perwujudan Tuhan. Seorang Baha’i sejati akan menjadi kekasih yang sempurna. Dia akan mencintai setiap manusia dengan hati yang tulus, sungguh-sungguh. Dia tidak akan membenci siapapun. Dia tidak akan meremehkan siapapun, karena dia akan belajar untuk melihat Wajah Kekasihnya pada setiap wajah, dan menemukan jejak-jejak Tuhan di semua tempat. Cintanya tidak mengenal batas-batas sekte, bangsa, kelas atau ras. Baha’u’llah mengatakan:—

“Of old it hath been revealed: ‘Love of one’s country is an element of the Faith of God.’ The Tongue of Grandeur hath … in the day of His manifestation proclaimed: ‘It is not his to boast who loveth his country, but it is his who loveth the world.’”—Tablet of the World.

“Blessed is he who prefers his brother before himself; such an one is of the people of Bahá.”—Tablets of Bahá’u’lláh, Words of Paradise.

“Dari sejak dahulu telah dinyatakan: ‘Cinta kepada satu Negara adalah suatu elemen dari Iman kepada Tuhan,’ Lidah Kemuliaan telah … pada hari Perwujudan Nya menyatakan: ‘Tidak lagi baginya membanggakan siapa yang mencintai negaranya, tetapi membanggakan siapa yang mencintai dunia.’” —Tablet of the World.

“Diberkatilah dia yang lebih mendahulukan saudaranya dari pada dia sendiri; seseorang yang seperti itu adalah orang-orang Baha.” –Tablets of Baha’u’llah, Words of Paradisee.

Abdu’l Baha mengatakan kepada kita, bahwa kita harus menjadi “satu jiwa didalam banyak tubuh, karena semakin kita mencintai satu sama lain, semakin dekat kita dengan Tuhan.” Kepada para pendengar Amerika Dia mengatakan:—

Seperti agama-agama ilahi yang lain dari para Nabi suci Tuhan yang pada kenyataannya adalah satu, walaupun mereka mempunyai nama dan nomenklatur yang berbeda. Manusia harus menjadi kekasih dari cahaya tidak peduli dari apa hari yang cerah itu muncul. Dia harus menjadi kekasih dari mawar tidak peduli dari tanah apa mawar itu tumbuh. Dia harus menjadi pencari akan kebenaran tidak peduli dari mana sumber kebenaran itu datang. Cinta terhadap lentera bukan merupakan cinta kepada cahaya. Cinta kepada tanah tidaklah layak tetapi cinta kepada keindahan mawar yang tumbuh dari tanahlah yang layak. Pengabdian kepada pohon tidaklah berguna tetapi mengambil buahnya lah yang bermanfaat. Buah yang lezat tidak peduli dari pohon apa dia tumbuh atau dimana dia ditemukan harus dinikmati. Kata-kata kebenaran tidak peduli lidah manakah yang menyatakan haruslah diikuti. Pernyataan mutlak tidak peduli di buku apakah dia dicatat haruslah diterima. Jika kita memelihara prasangka, itu akan menjadi penyebab dari kekurangan dan kebodohan. Perselisihan antar agama, bangsa dan ras muncul dari kesalahpahaman. Jika kita mencoba memahami agama dari ideologi yang menjadi pondasi mereka, kita akan menemukan bahwa mereka sependapat, karena realitas fundamental dari semua agama Tuhan adalah satu. Dengan memahami hal tersebut maka semua orang yang beragama di dunia akan mencapai persatuan dan rekonsiliasi.

Sekali lagi Dia Mengatakan:—

Setiap jiwa yang dicintai juga harus mencintai jiwa yang lain dan tidak menyimpan harta dan hidupnya untuk dirinya sendiri, yang artinya dengan segala cara dia harus berusaha untuk membuat orang lain gembira dan bahagia. Tetapi orang-orang lain ini juga harus melakukan hal yang sama dan bersedia berkorban. Jika hal itu terjadi maka Matahari terbit ini akan membanjiri horizon, Melodi ini akan menggembirakan dan membuat semua orang bahagia, Perbaikan ilahi ini akan menjadi obat mujarab bagi setiap penyakit, Roh Kebenaran ini akan menjadi penyebab bagi kehidupan setiap jiwa.

Pemutusan

                Pengabdian kepada Tuhan juga berarti pemutusan dari segala hal yang bukan Tuhan, yaitu pemutusan dari semua keegoisan dan duniawi, dan dari nafsu dunia yang lain. Jalan Tuhan bisa berada di dalam kekayaan ataupun kemiskinan, kesehatan ataupun penyakit, di dalam istana ataupun penjara, kebun mawar ataupun ruang penyiksaan. Apapun itu, seorang Baha’i akan belajar untuk menerima nasibnya. Pemutusan tidak berarti ketidakpedulian terhadap lingkungan atau menjadi pasif terhadap perbuatan jahat; tidak juga berarti meremehkan hal-hal baik yang Tuhan telah ciptakan. Seorang Baha’i sejati bukanlah orang yang tidak berperasaan, tidak juga apatis atau seorang pertapa. Dia akan menemukan ketertarikan yang besar, pekerjaan yang banyak dan kegembiraan yang melimpah di Jalan Tuhan, tetapi dia tidak akan menyimpang satu helai rambutpun dari jalan tersebut dalam mengejar kesenangan, tidak juga merindukan sesuatupun yang telah dilarang Tuhan.

Ketika seseorang menjadi seorang Baha’i, Kehendak Tuhan akan menjadi kehendaknya, karena menjadi berbeda dengan yang Tuhan inginkan adalah sesuatu yang tidak bisa dia tahan. Di dalam jalan Tuhan tidak akan ada kesalahan yang dapat menggemparkan hidupnya, tidak akan ada masalah yang dapat mencemaskan dia. Cahaya cinta akan menyinari hari-harinya yang paling gelap, penderitaan berubah menjadi kebahagiaan, dan mati syahid pun menjadi ekstasi kebahagiaan. Kehidupan akan diangkat keatas seperti pesawat heroik dan kematian menjadi petualangan yang bahagia. Baha’u’llah mengatakan:—

Siapapun yang memelihara di dalam hatinya cinta atas siapapun selain Aku, baik itu hanyalah sebutir biji sawi, tidak akan dapat masuk kedalam Kerajaan Ku.—The Summons of the Lord of Hosts, Suriy-i-Haykal

Wahai Anak Manusia!

Jika engkau mencintai Aku, berpalinglah dari dirimu sendiri; dan jika engkau mencari kesenangan Ku, tinggalkanlah punya engkau; agar engkau bisa mati di dalam Aku dan Aku bisa selamanya tinggal di dalam engkau.—The Hidden Words.

Wahai Hamba Ku!

Bebaskanlah diri engkau dari belenggu dunia ini, dan bebaskan jiwa engkau dari penjara diri. Raihlah kesempatan engkau, atau hal itu tidak akan datang kepada engaku lagi.—The Hidden Words.

Ketaatan

                Pengabdian kepada Tuhan melibatkan ketaatan yang sungguh-sungguh kepada Perintah Nya yang telah terungkapkan, bahkan ketika alasan dari perintah ini tidak dipahami. Pelaut dengan sungguh-sungguh mematuhi perintah kaptennya, walaupun dia tidak mengetahui alasan untuk perintah itu, tetapi penerimaannya akan otoritas tidaklah buta. Dia sangat mengetahui bahwa kapten tersebut telah menjalani berbagai macam rintangan, dan telah membuktikan kemampuannya sebagai seseorang yang memberi arahan. Kalau tidak begitu, merupakan hal bodoh untuk mematuhi kapten tersebut. Jadi seorang Baha’i harus dengan sungguh-sungguh mematuhi Kapten Keselamatannya, tetapi merupakan hal bodoh jika dia belum memastikan bahwa Kapten ini telah membuktikan kejujuran dan kepercayaan.

Jika dia telah menerima bukti-bukti yang pasti, tetapi dia menolak untuk menjadi taat merupakan kebodohan yang lebih parah, karena hanya dengan kecerdasan dan mata yang terbuka kepada guru yang bijak, dapat kita tuai manfaat dari kebijaksanaannya, dan memperoleh kebijaksanaan itu untuk diri kita sendiri. Jika seorang kapten bukan merupakan seorang yang bijaksana atau jika tidak seorang pun dari krunya yang patuh bagaimana bisa sebuah kapal mencapai dermaga atau bagaimana bisa para pelaut belajar melayarkan sebuah kapal?

Yesus Kristus dengan jelas telah mengajarkan bahwa ketaatan merupakan jalan menuju pengetahuan. Kristus berkata:— “Ajaran ku bukanlah kepunyaanku, tetapi DIA lah yang telah mengutusku. Jika ada manusia yang melaksanakan perintah NYA, dia akan mengetahui ajaran itu, apakah itu dari Tuhan, atau dari diriku sendiri. ” –St. John vii, 16-17. Kemudian Baha’u’llah mengatakan: “Kepercayaan sejati kepada Tuhan dan pengakuan atas Nya tidak bisa dijaga dengan sungguh-sungguh kecuali dengan melaksanakan apapun yang telah Tuhan nyatakan dan taat kepada apapun yang telah Tuhan tetapkan dan yang telah tertulis di dalam Kitab oleh Pena Kemuliaan.”—Tablets of Baha’u’llah, Tablet of Tajalliyat.

Ketaatan yang Tulus pada Tuhan bukan merupakan kebajikan populer di jaman yang demokratik ini, dan melakukan penyerahan penuh terhadap kehendak Tuhan dianggap sebuah bencana bagi seorang manusia biasa. Tetapi Persatuan Kemanusiaan hanya dapat dicapai dengan keharmonisan penuh pada masing-masing individu dan keharmonisan diantara sesama dengan perintah Ilahi. Dan jika Perintah tersebut telah dengan jelas dinyatakan, dan manusia meninggalkan semua pemimpin lain dan mematuhi Utusan-Utusan Ilahi, maka konflik dan perselisihan akan musnah, tetapi manusia terus menerus memusuhi satu sama lain, menggunakan sebagian besar kekuatannya untuk menggagalkan usaha saudara-saudara mereka yang lain, alih-alih bekerja secara harmonis bersama-sama untuk Kemuliaan Tuhan dan melakukan kebaikan.

Pelayanan

                Pengabdian kepada Tuhan berarti kehidupan akan pelayanan kepada sesama manusia. Kita tidak dapat melayani Tuhan dengan cara lain. Jika kita berpaling dari sesama kita, berarti kita telah berpaling dari Tuhan. Kristus menyatakan, “Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan itu tidak ada yang paling hina dari ini, yaitu jika kamu melakukan sesuatu tapi tidak melakukannya untuk Ku.” Kemudian Baha’u’llah mengatakan:–

“Wahai anak manusia! Jika matamu melihat kepada rahmat, lakukanlah hal-hal yang berguna untuk mu, dan gantungkanlah dirimu kepada hal-hal yang akan menguntungkan kemanusiaan. Dan jika matamu melihat kepada keadilan, dekatkanlah dirimu dengan tetanggamu agar engkau dapat dekat dengan Tuhan. ” –Tablets of Baha’u’llah, Word of Paradise.

Abdu’l Baha mengatakan:—

Dalam Ajaran Baha’i, kesenian, ilmu pengetahuan dan semua keahlian merupakan bentuk dari ibadah. Seorang manusia yang membuat sebuah karya tulis dan mencurahkan yang terbaik dari kemampuannya, bersungguh-sungguh, mengerahkan seluruh kekuatannya untuk membuat karya itu sempurna, berarti dia telah memuji Tuhan. Lebih jelasnya, semua usaha dan kerja keras yang dilakukan oleh manusia dari dalam lubuk hatinya adalah sebuah ibadah, jika hal itu didasari dengan motivasi dan keinginan untuk melakukan pelayanan kemanusiaan. Ibadah adalah: berbuat untuk kepentingan umat manusia dan melayani orang-orang yang lebih membutuhkan. Pelayanan adalah sebuah doa. Seorang dokter yang melayani orang sakit, dengan lembah lembut, penuh kasih, bebas dari prasangka dan menyakini solidaritas antar manusia, berarti dia telah memuji Tuhan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s