Abdu’l Baha

abdul-baha-2

Ketika lautan kehadiran Ku telah surut dan Kitab dari Wahyu Ku telah berakhir, maka palingkan lah wajahmu kepada Nya (Abdu’l Baha) yang telah Tuhan tunjukan, yang bercabang dari Akar Kuno ini.   –Baha’u’llah, Kitab-i-Aqdas

Kelahiran dan Masa Kanak-Kanak

Abbas Effendi, yang kemudian diberi nama Abdu’l Baha (as Seorang Hamba Baha), adalah anak sulung dari Baha’u’lllah. Dia dilahirkan di Kota Tihran sebelum tengah malam pada tanggal 23 Mei 1844, malam yang sama ketika Bab mendeklarasikan misi-Nya.

Dia baru berusia Sembilan tahun ketika ayah-Nya, yang sangat setia kepada-NYA, dibuang kedalam penjara di Kota Tihran. Masa menghampiri rumah mereka, dan keluarga-Nya dilucuti dari harta benda mereka dan ditinggalkan dalam kemelaratan. Abdu’l Baha menceritakan bagaimana pada suatu hari Dia diizinkan untuk masuk kedalam halaman penjara untuk menemui ayah tercinta-Nya ketika Dia keluar untuk kegiatan rutin-Nya. Baha’u’llah sungguh sangat berubah, Dia sakit-sakitan hampir tidak bisa berjalan, rambut dan jenggot-Nya tidak terawat, leher-Nya bengkak dikarenakan tekanan kalung baja yang berat, tubuh-Nya bengkok oleh berat rantai-rantai-Nya, dan keadaan itu merupakan kesan yang tak akan pernah dilupakan dari pikiran anak laki-laki yang sensitive itu.

Selama tahun pertama ketika mereka tinggal di Baghdad, sepuluh tahun sebelum pembukaan Deklarasi yang dilakukan Baha’u’llah mengenai Misi-Nya, penglihatan tajam Abdu’l Baha, yang pada waktu itu Dia masih berusia Sembilan tahun, telah membawa-Nya kepada penemuan penting bahwa ayah-Nya merupakan Perwujudan yang Dijanjikan yang telah ditunggu oleh semua Babis. Sekitar enam puluh tahun setelah itu Dia menggambarkan momen dimana ketika keyakinan ini membuncah di dalam diri-Nya:

Aku adalah seorang hamba dari Kesempurnaan yang Diberkati (the Blessed Perfection). Di Baghdad ketika aku masih seorang anak kecil. Pada saat itu juga Dia mengatakan padaku sebuah Firman, dan aku mempercayai-Nya. Segera setelah aku mendengar Firman-Nya, aku seketika bersujud di Kaki Suci Nya dan memohon dan memohon kepada-Nya untuk menerima darah ku sebagai sebuah pengorbanan di dalam Jalan Kebenaran-Nya. Pengorbanan! Begitu manis rasanya kata itu! Tidak ada Karunia yang lebih besar dari pada ini! Kemuliaan apa yang lebih besar yang dapat aku pahami dari pada melihat leher ini dirantai demi-Nya, kaki ini dibelenggu demi cinta-Nya, tubuh ini dimutilasi atau dibuang ke kedalaman laut demi-Nya! Jika pada kenyataannya kita adalah pencinta-Nya yang tulus—jika pada kenyataannya aku adalah hamba-Nya yang tulus, maka aku harus mengorbankan hidupku, semua yang ada pada diriku kepada Sumber Keberkahan Nya. –Diary dari Mirza Ahmad Sohrab, Januari 1914.

Pada sekitar masa ini Dia mulai dipanggil dengan sebutan “Misteri Tuhan” oleh teman-teman Nya, sebuah julukan yang diberikan kepada Nya oleh Baha’u’llah, yang Dia kemudian terkenal dengan julukan tersebut ketika Dia tinggal di Baghdad.

Ketika ayah-Nya pergi selama dua tahun ke padang gurun, hati Abbas hancur. Penghiburan hati utama-Nya adalah menyalin dan berkomitmen pada Tablet dari Bab, dan banyak dari waktu-Nya Dia habiskan untuk bermeditasi. Ketika pada akhirnya ayah-Nya kembali, anak laki-laki itu dipenuhi kegembiraan.

Masa Muda

                Sejak saat itu, Dia menjadi pendamping terdekat Ayah-Nya dan, karena itu juga Dia merupakan seorang pelindung. Meskipun Dia hanya seorang pemuda, Dia telah menunjukkan kecerdasan yang luar biasa, dan mengambil tugas mewawancarai semua pengunjung yang datang untuk bertemu dengan ayah-Nya. Jika DIa menganggap bahwa mereka adalah pencari kebenaran sejati, Dia akan menemukan mereka dengan ayah-Nya, tetapi jika sebaliknya Dia tidak mengizinkan mereka untuk menyulitkan Baha’u’llah. Pada banyak kesempatan Dia membantu ayah-Nya menjawab pertanyaan-pertanyaan dan menyelesaikan kesulitan dari para pengunjung. Contohnya, ketika salah satu dari pemimpin Sufi, yang bernama Ali Shawkat Pasha, yang meminta sebuah penjelasan dari kalimat ini: “Aku adalah Misteri yang Tersembunyi” seperti yang yang terdapat di dalam tradisi agama Islam yang terkenal, Baha’u’llah mendatangi “Misteri Tuhan” yaitu Abbas, dan memintanya untuk menulis sebuah penjelasan. Anak laki-laki itu, yang berusia lima belas atau enam belas tahun, suatu waktu menulis sebuah surat penting yang memberikan eksposisi yang mencerahkan yang membuat Pasha terkagum-kagum. Surat ini sekarang telah tersebar luas diantara para pemeluk Baha’i, dan dikenal luas oleh para non Baha’i.

                Pada masa ini Abbas sering berkunjung ke masjid-masjid, Abdu’l Baha akan berdiskusi mengenai hal-hal teologi dengan para doctor dan orang-orang terpelajar. Dia tidak pernah menghadiri sekolah ataupun universitas, satu-satunya guru-Nya adalah ayah-Nya. Rekreasi favorit-Nya adalah mengendarai kuda, yang mana Dia sangat menikmatinya.

                Setelah Deklarasi dari Baha’u’llah dalam sebuah Taman diluar Baghdad, pengabdian Abdu’l Baha kepada ayah-Nya menjadi lebih besar dari sebelumnya. Pada perjalanan panjang menuju Konstantinopel Dia menjaga Baha’u’llah siang dan malam, mengendarai kereta-Nya dan mengamati-Nya di dekat tenda-Nya. Sebanyak mungkin Dia menyenangkan ayah-Nya dengan semua pelayanan dan tanggung jawab, menjadi andalan dan kenyamanan bagi seluruh keluarga.

                Selama tahun-tahun yang dihabiskan di Andrianopel, Abdu’l Baha selalu disenangi oleh semua orang. Dia banyak mengajar, dan menjadi terkenal sebagai seorang “Master”. Di kota Akka, ketika hampir seluruh golongan masyarakat terkena penyakit thypoid, malaria dan disentri, Dia membersihkan para pasien, merawat mereka, memberi makan mereka, menjaga mereka, tanpa istirahat, sampai Dia benar-benar tidak sanggup lagi, akhirnya Dia sendiri terkena penyakit disentri, dan sekitar satu bulan berada dalam kondisi mengkhawatirkan. Di kota Akka, seperti halnya di kota Andrianople, semua kelas masyarakat, dari para Gubernur sampai para pengemis, mereka belajar mencintai dan menghormati-Nya.

Pernikahan

Keterangan berikut ini adalah mengenai pernikahan dari Abdu’l Baha yang telah diberikan dengan ramah untuk penulis (Dr. Esslemont) oleh sejarawan Iran untuk Agama Baha’i:–

                                Selama masa muda Abdu’l Baha pertanyaan mengenai pernikahan yang cocok bagi-Nya secara alami merupakan suatu ketertarikan besar bagi para pemeluk agama Baha’i, dan banyak orang mendatanginya, berharap memiliki mahkota kehormatan ini bagi keluarganya. Untuk waktu yang lama, bagaimanapun, Abdu’l Baha tidak menunjukkan ketertarikan akan pernikahan, dan tidak ada yang mengerti kebijaksanaan dari ini. Tetapi setelah itu telah diketahui bahwa ada seorang gadis yang ditakdirkan untuk menjadi istri Abdu’l Baha, seseorang yang kelahirannya datang melalui Berkah yang diberikan Bab kepada orang tuanya di Isfahan. Ayah nya adalah Mirza Muhammad Ali, yaitu paman dari “Raja Syuhada” dan “Seseorang yang Tercinta dari para Syuhada”, dan gadis itu berasal dari salah satu keluarga yang hebat dan terhormat di Isfahan. Ketika Bab berada di Isfahan, Mirza Muhammad Ali tidak mempunyai seorang anak, tetapi istrinya sangat mengharapkan kehadiran seorang anak. Ketika mendengar hal ini, Bab memberikan sebagaian makanan-Nya dan mengatakan kepadanya untuk berbagi bersama istrinya. Setelah mereka memakan makanan tersebut, segera tersampaikan keinginan lama mereka untuk menjadi ibu dan ayah, dan anak perempuan itu lahir diantara mereka, yang kemudian diberi nama Munirih Khanum. lalu seorang anak laki-laki lahir, yang mereka beri nama Siyyid Yahya, dan setelah itu mereka mempunyai beberapa anak yang lain. Setelah beberapa waktu, ayah Munirih wafat, sepupu nya kemudian di syuhadakan oleh Sultan Zillu dan para Mollah, dan keluarganya jatuh kedalam masalah besar dikarenakan mereka menjadi pemeluk agama Baha’i. Baha’u’llah kemudian mengizinkan Munirih dan saudara laki-lakinya Siyyid Yahya untuk datang ke Akka untuk perlindungan. Baha’u’llah dan istri-Nya, Navvab, ibunda dari Abdu’l Baha, menunjukkan keramahan dan kebaikan kepada Munirih yang membuat semua orang paham bahwa mereka berharap dia menjadi istri dari Abdu’l Baha. Harapan ayah dan ibunda-Nya menjadi harapan Abdu’l Baha juga. Dia mempunyai perasaan cinta yang hangat dan kasih sayang untuk Munirih yang sepenuhnya membalas perasaan tersebut, dan tidak lama kemudian mereka akhirnya bersatu dalam sebuah pernikahan.

                Pernikahan tersebut terbukti sangat bahagia dan harmonis. Mereka dikaruniai empat orang anak perempuan yang telah bertahan dalam kerasnya pemenjaraan panjang mereka, dan, melalui keindahan kehidupan mereka dalam pelayanan, telah membuat mereka dicintai oleh semua orang yang beruntung mengenal mereka.

Pusat dari Perjanjian

                Baha’u’llah telah tampak dalam banyak cara menunjuk Abdu’l Baha untuk mengarahkan Ajaran Ilahi setelah kenaikan Nya. Bertahun-tahun sebelum kematian Nya Dia telah menyatakan secara tersirat di dalam Kitab-i-Aqdas Nya. Dia merujuk pada Abdu’l Baha dalam berbagai kesempatan seperti “The Center of My Covenant”, “The Most Great Branch”, “The Branch from the Ancient Root”. Baha’u’llah terbiasa menggunakan panggilan “The Master” ketika berbicara tentang Nya dan meminta seluruh keluarga Nya untuk memperlakukan Nya dengan hormat; dan di dalam Wasiat dan Perjanjian Nya (Will and Testament) Baha’u’llah meninggalkan perintah yang jelas bahwa semua harus berpaling kepada Nya dan mematuhi Nya.

                Setelah kewafatan dari “Blessed Beauty” (nama panggilan Baha’u’llah oleh para keluarga Nya dan pengikut Nya) Abdu’l Baha mengambil alih posisi yang dengan jelas ayah Nya telah menunjuk untuk Nya yaitu sebagai pemimpin Ajaran Ilahi dan Penafsir otoritatif ajaran-ajaran, tetapi hal ini tidak disukai oleh para kerabat dan yang lainnya, yang menentang Abdu’l Baha sepahit Subhi-i-Azal menentang Baha’u’llah. Mereka mencoba membangun perselisihan di antara para pemeluk Agama Baha’I, dan, tidak berhasil dalam hal itu, mereka mncoba menciptakan tuduhan-tuduhan palsu kepada Pemerintah Turki mengenai Abdu’l Baha.

                Sesuai dengan perintah yang diterima dari ayah-Nya, Abdu’l Baha mendirikan sebuah bangunan di lereng Gunung Karmel, diatas kota Haifa, yang mana tempat ini dijadikan tempat istirahat permanen dari sisa-sia peninggalan Bab, dan juga berisi sejumlah ruangan untuk mengadakan pertemuan dan pelayanan. Mereka mewakili sebuah otoritas yang menjadikan bangunan ini sebagi benteng, dan bermaksud bahwa Abdu’l Baha dan para pengikut-Nya ingin berkubu disana, menentang pemerintah, berusaha untuk mendapatkan kepemilikan atas wilayah tetangga di Suriah.

Pemenjaraan Ketat dan Pembaharuan

                Dalam konsekuensi dan harga yang harus dibayar untuk semua itu, pada tahun 1901 Abdu’l Baha dan keluarga Nya, yang untuk lebih dari dua puluh tahun telah diperbolehkan bebas oleh Negara di wilayah-wilayah sekitar Akka, lagi-lagi, untuk lebih dari tujuh tahun, mereka dibatasi secara ketat untuk tinggal di dalam tembok kota. Hal ini bagaimanapun tidak menghalangi Nya, untuk secara efektif menyebarkan pesan Baha’I sampai ke Asia, Eropa dan Amerika. Tuan Horace Holley menuliskan mengenai masa-masa ini sebagai berikut:–

   Teruntuk Abdu’l Baha, sebagai seorang guru dan teman, datang laki-laki dan permpuan dari segala macam ras, agama dan suku bangsa, mereka duduk mengitari mejanya seperti tamu yang sangat diharapkan,mereka menanyakan kepadanya tentang sosialitas, spiritualitas atau tentang progam kemoralan yang paling menarik hati mereka; dan setelah tinggal disana dari beberapa jam sampai berbulan-bulan, mereka kembali ke rumah, mereka terinspirasi, terbaharui dan tercerahkan. Dunia pasti tidak pernah memiliki tamu yang menjadi seperti itu.

Di ambang pintu rumah itu tradisi kasta India yang kaku akan mencair, prasangka rasial Yahudi, Kristen dan Islam hanya menjadi sebuah kenangan; dan setiap perjanjian menyimpan hukum murni akan kehangatan hati dan pemikiran-pemikiran yang rusak, dihapus dan dilarang oleh simpati pemersatu tuan rumah tersebut. Seperti halnya Raja Arthur dan Meja Bundar nya … tetapi Arthur yang telah memberi gelar wanita seperti laki-laki, Abdu’l Baha menaklukan tidak dengan menggunakan pedang melainkan menggunakan Firman.

—The Modern Social Religion, Horace Holley.

                Pada tahun-tahun ini Abdu’l Baha melakukan korespondensi besar dengan para pengikut Nya dan para penanya dari seluruh bagian dunia. Dalam pekerjaan ini Dia sangat dibantu oleh anak-anak perempuan Nya dan juga oleh beberapa penerjemah dan sekretaris.

                Banyak dari waktu Nya dihabiskan untuk mengunjungi orang-orang sakit dan menderita di rumah mereka; dan di pojok termiskin kota Akka tidak ada pengunjung yang lebih disambut baik dari pada sang “Master”. Seorang peziarah yang telah mengunjungi Akka pada masa ini menulis:–

Ini adalah kebiasaan Abdu’l Baha setiap minggu, pada Jumat pagi, membagikan   sedekah kepada orang-orang miskin. Dari toko kecilnya sendiri dia memberikan sedikit sedekah kepada orang-orang miskin yang datang untuk meminta bantuan. Pagi ini sekitar seratus orang telah berbaris, mereka duduk dan berjongkok diatas tanah di jalan terbuka dimana rumah Abdu’l Baha berdiri. Dan kondisi mereka sungguh tidak dapat dibayangkan. Berbagai macam laki-laki, perempuan dan anak-anak—miskin, melarat, tanpa harapan, setengah berpakaian, banyak dari mereka yang lumpuh dan buta, para pengemis, miskin melampau ekspresi mereka–menunggu penuh harapan—sampai Abdu’l Baha tiba di depan pintu… Dia dengan cepat bergerak dari satu orang ke yang lain, terkadang berhenti sejenak untuk memberikan kata-kata simpati dan dorongan, menjatuhkan kon-koin kecil ke dalam batok kelapa yang direntangkan secara bersemangat, menyentuh wajah anak-anak, menggenggam tangan seorang wanita tua yang memegangi dengan kuat ujung jubahnya sambil berlalu, memberikan kata-kata pencerahan kepada seorang bapak tua yang buta,dan bercakap-cakap dengan mereka yang lemah dan miskin yang datang untuk bantuan, dan memulangkan mereka dengan pesan cinta dan semangat.

—Glimpses of Abdu’l Baha, M. J. M.

                Keinginan pribadi Abdu’l Baha hanya sedikit. Dia bekerja pagi dan petang. Dua makanan sederhana dalam sehari sudah cukup baginya. Lemari pakaian Nya hanya berisi sedikit pakaian berbahan murah. Dia tidak bisa tahan dengan hidup dalam kemewahan sementara yang lain membutuhkan.

Dia memiliki kasih yang besar kepada anak-anak, kepada bunga-bunga, dan kepada keindahan alam. Setiap pagi sekitar pukul enam atau tujuh, kegiatan keluarga Nya yaitu berkumpul bersama untuk minum teh pagi bersama, dan pada saat sang Master meneguk teh Nya , anak-anak kecil dalam keluarga Nya memanjatkan doa-doa. Tuan Thornton Chase menuliskan tentang anak-anak ini:–“Anak-anak seperti itu aku tidak pernah melihatnya, sangat sopan, tidak egois, sangat memikirkan orang lain, tidak mengganggu, dan cerdas….”

—In Galilee.

Sebuah “pemerintahan bunga” adalah fitur kehidupan di Akka, yang mana setiap peziarah membawa pulang keharuman kenangan. Nyonya Lucas menuliskan:–“Ketika sang Master menghirup wangi dari bunga, sangat menyenangkan melihatnya. Hal itu tampak seolah-olah aroma dari bunga-bunga mengatakan sesuatu kepadanya pada saat wajahnya berada diantara bunga-bunga. Hal itu seperti telinga yang berusaha menangkap harmoni yang indah, sebuah perhatian penuh!”

—A Brief Account of My Visit to Akka.

                Dia suka menghadirkan keindahan dan bunga-bunga yang berbau manis kepada para pengunjun Nya. Tuan Thornton Chase meringkas kesan yang dia peroleh dari kehidupan penjara di Akka sebagai berikut:–

Lima hari kita tinggal di dalam tembok itu, menjadi tahanan bersama Nya yang diam dalam sebuah “Penjara yang paling Agung”. Itu adalah sebuah penjara kedamaian, cinta dan pelayanan. Tidak ada harapan, tidak ada keinginan kecuali untuk kebaikan umat manusia, untuk kedamaian dunia, untuk pengetahuan akan kepemimpinan Tuhan dan kesamaan hak bagi manusia sebagai sesame ciptaan-NYA, anak-NYA. Memang, hal-hal yang ada di dalam penjara yang sesungguhnya, suasana yang menyesakkan, keterasingan dari keinginan hati yang tulus, ikatan akan kondisi dunia, itu semua berada di luar tembok batu itu, sementara di dalam nya adalah kebebasan dan aura murni dari Roh Tuhan. Semua masalah, kekhawatiran atau kecemasan atas urusan dunia berada diluar sana.

—In Galilee.

                Untuk sebagian besar orang kesulitan akan kehidupan penjara merupakan bencana yang menyedihkan, tetapi untuk Abdu’l Baha hal itu bukan merupakan terror sama sekali. Ketika didalam penjara Dia menuliskan:–

Jangan bersedih karena pemenjaraan dan bencana ku; karena penjara ini adalah taman ku yang indah, surga ku dan tahta ku yang berkuasa diantara umat manusia. Bencana ku adalah sebuah mahkota untuk ku yang mana Aku menjadi mulia diantara orang-orang yang benar.

Setiap orang bisa bahagia dalam kenyamanan, kemudahan, kesehatan, kesuksesan, kesenangan dan suka cita; tetapi jika seseorang berbahagia dan puas pada masa kesukaran, kesulitan dan penyakit, itu adalah sebuah bukti dari kemuliaan.

Komisi Investigasi Turki

                Pada tahun 1904 dan 1907 sebuah komisi ditunjuk oleh Pemerintah Turki untuk menyelidiki dakwaan terhadap Abdu’l Baha, terdapat juga saksi yang berbohong memberikan bukti palsu untuk menjatuhkan Nya. Sementara Abdu’l Baha menyangkal seluruh tuduhan, tetapi Dia juga menyatakan kesiapan Nya untuk tunduk kepada hukuman apapun yang diberikan dengan pemaksaan oleh pengadilan. Dia menyatakan bahwa jika mereka harus melemparkan Nya ke dalam penjara, menyeret Nya melalui jalan-jalan, mengutuk Nya, meludahi Nya, melempari Nya dengan batu, melakukan hal memalukan apapun kepada NYa, menggantung Nya atau menembak Nya, Dia akan tetap bahagia.

                Sementara Komisi Investigasi menjalankan tugasnya Dia menjalankan kehidupan sehari-hari Nya dengan hati yang paling tenang, menanam pohon-pohon buah di kebun dan memimpin sebuah pesta pernikahan dengan berwibawa dan bercahaya dikerenakan kebebasan spiritual. Konsul Negara Spanyol menawarkan untuk menyediakan Nya perjalanan aman ke pelabuhan asing manapun yang Dia kehendaki, Dia mensyukuri tawaran ini tetapi dengan tegas menolaknya, Dia mengatakan apapun konsekuensinya, Dia harus mengikuti jejak dari Bab dan Blessed Perfection (Baha’u’llah), yang tidak pernah mencoba untuk menyelamatkan Diri Mereka atau melarikan diri dari musuh Mereka. Dia mendorong hampir semua pengikut Nya untuk meninggalkan kota Akka dan sekitarnya, yang saat ini telah menjadi sangat berbahaya bagi mereka, dan Dia memilih untuk tetap sendiri, dengan sedikit para pengikut, untuk menunggu takdir Nya.

                Empat pejabat korup yang membentuk komisi investigasi terakhir telah tiba di Akka pada awal musim dingin tahun 1907, menetap selama sebulan, dan kemudian berangkat ke Konstantinopel, setelah menyelesaikan apa yang mereka sebut degan “investigasi”, bersiap-siap untuk melaporkan bahwa tuduhan terhadap Abdu’l Baha telah dibuktikan dan mereka merekomendasikan pengasingan atau eksekusi Nya. Tidak lama setelah itu mereka telah kembali ke Turki, namun, sebuah revolusi pecah di Negara tersebut dan keempat pejabat itu yang merupakan pihak dari rezim lama, harus melarikan diri meyelamatkan kehidupan mereka. Para Pemuda Turki menetapkan supremasi mereka sendiri, semua pejabat politik dan para tahanan di Kerajaan Ottoman dibebaskan. Pada bulan September 1908 Abdu’l Baha dibebaskan dari penjara, dan beberapa tahun kemudian sang Sultan Abdu’l-Zamid, menjadi tahanan berikutnya.

Perjalanan ke Barat

                Setelah kebebasan Nya. Abdu’l Baha meneruskan kehidupan suci yang sama yaitu aktifitas pengajaran tanpa henti, korespondensi, melayani orang-orang sakit dan miskin, dengan hanya berpindah dari Akka ke Haifa dan dari Haifa ke Aleksandria, tetapi pada bulan Agustus 1911, Dia memulai kunjungan pertama Nya ke dunia Barat. Selama perjalanan Nya ke Barat, Abdu’l Baha bertemu dengan orang-orang yang memiliki berbagai macam pendapat dan Dia sangat mematuhi perintah Baha’u’llah yaitu untuk “Bertemu dan Melayani semua orang dengan gembira dan penuh keharuman”. Dia tiba di London pada awal September 1911, dan menghabiskan waktu satu bulan disana, disamping menjalankan kegiatan sehari-hari Nya yaitu benbincang dengan para penanya dan banyak aktifitas lain, Dia juga mengunjungi jemaat dari Pendeta R. J. Campbell di City Temple, dan jemaat dari Diakon Agung Wilberforce di Santa John, Westminster, dan kunjungan sarapan pagi dengan sang Lord Mayor. Kemudian Dia berkunjung ke Paris, dimana Dia menghabiskan seluruh waktu Nya untuk memberikan ceramah harian dan berbicara kepada pendengar yang bersemangat yang berasal dari banyak ras dan suku bangsa. Pada bulan Desember Dia kembali ke Mesir, dan pada musim semi selanjutnya, dalam rangka memenuhi permohonan serius dari para teman Amerika Nya, Dia berangkat ke Amerika Serikat, tiba di New York pada bulan April 1912. Selama Sembilan bulan selanjutnya Dia melakukan perjalanan mengelilingi Amerika, dari ujung ke ujung, bertemu dengan berbagai macam orang—mahasiswa, para Sosialis, Mormon, Yahudi, Kristen, Agnostik, Esperantis, Masyarakat Perdamaian, Klub Pemikiran Baru, kelompok yang mengusahakan hak-hak perempuan, dan melakukan ceramah di gereja-gereja , setiap kali Dia selalu memberikan ceramah dan kata-kata yang sesuai dengan para pendengar dan keadaan. Pada tanggal lima Desember Dia berlayar menuju Britania Raya selama enam minggu, mengunjungi Liverpool, London, Bristol dan Edinburgh. Di Edinburgh Dia memberikan ceramah penting untuk masyarakat Esperanto, yang mana Dia menyatakan bahwa Dia telah mendorong para pemeluk Baha’I di bagian timur dunia untuk mempelajari Esperanto agar dapat tercipta pemahaman yang lebih baik antara Timur dan Barat. Setelah dua bulan di Paris, yang Dia habiskan seperti biasa untuk menghadiri wawancara dan pertemuan, Dia kemudian berangkat ke Stuttgart, dimana Dia mengadakan beberapa pertemuan yang berlangsung sangat baik dengan Baha’is di Jerman; kemudian di Budapest dan Vienna, mendirikan kelompok-kelompok baru, setelah itu Dia kembali ke Mesir pada bulan Mei 1913, dan kembali ke Haifa pada tanggal lima Desember 1913.

Translated from Bahá’u’lláh and the New Era
An Introduction to the Bahá’í Faith
by John E. Esslemont

Iklan

Satu respons untuk “Abdu’l Baha

  1. “…bersujud di Kaki Suci Nya…”

    Kakinya siapa? Kaki tuhan? Tuhan butuh kaki? Buat apa? Buat jalan-jalan nemuin si Mirza? Berarti dia butuh ruang buat meletakan kakinya? Kenapa tuhan butuh ruang? Berarti YANG MENCIPTAKAN dimensi ruang buat naro kakinya tuhan jauh lebih hebat daripada dia, donk? Make sense, kan?

    ***

    “…Dia mengatakan padaku sebuah Firman, dan aku mempercayai-Nya…” yakin itu firman bukan bisikan setan/jin?

    Bisikan setan/jin bukan cuma sebatas hal-hal yang maksiat doank, lho… Setan/jin jauh lebih rajin membisikan hal-hal indah ke manusia yang lemah/sesat imannya supaya ia terbuai dalam ‘keindahan’ perbuatan dan pemikiran syirik (menciptakan tuhan-tuhan baru dan nabi-nabi palsu).

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s