Perjalanan Hidup Baha’u’llah Dalam Membawa Ajaran Baru

Nabi Baha’u’llah adalah Nabi besar Agama Baha’i, yang memulai dan membawa Ajaran Agama Baha’i. Berikut adalah kisah dari kehidupan Beliau yang diambil dan diterjemahkan dari Buku “Baha’u’llah and the New Era” oleh Dr. J.E. Esslemont.

Dipenjarakan sebagai pengikut Bab

Ketika Bab menyatakan misi-Nya pada tahun 1844, Baha’u’llah yang pada saat itu berusia dua puluh tujuh tahun, Dia dengan berani mendukung Ajaran Baru yang dibawa oleh Bab, yang mana kemudian Dia segera dicap sebagai salah satu musuh yang paling kuat dan tak kenal takut. Dia telah dua kali menderita di dalam penjara karena membela Ajaran Tuhan, dan pada satu waktu Dia harus mengalami penyiksaan dengan pukulan, pada bulan Agustus 1852, ketika sebuah peristiwa pelik terjadi dengan konsekuensi mengerikan untuk para pengikut Bab.

Salah satu pengikut Bab, seorang pemuda yang bernama Sadiq, sangat terguncang oleh kematian Guru tercintanya (Bab), dia adalah seorang saksi mata atas kematian Bab , hal ini menjadikan pikirannya menjadi gila, dan, dalam balas dendamnya, dia mencegat Shah dan menembakkan pistol kearahnya. Walaupun tidak menggunakan peluru asli, dia mengisi pistolnya dengan peluru kecil, dan walaupun beberapa tembakan telah menembus tubuh Shah, peluru tersebut tidak menimbulkan luka serius. Pemuda itu menyeret Shah dari kudanya, tetapi Shah segera diselamatkan oleh para ajudannya dan pemuda itu dihukum mati di tempat. Akibatnya seluruh pengikut Bab harus bertanggung jawab secara tidak adil atas perbuatan tersebut, dan pembantaian mengerikkan pun terjadi. Delapan puluh orang dari mereka segera dihukum mati di kota Tehran dengan penyiksaan. Banyak dari mereka yang dirampas dan dimasukkan ke dalam penjara, salah satu dari mereka adalah Baha’u’llah. Kemudian Beliau menulis: —

Dengan kebenaran Tuhan! Kita tidak ada hubungannya dengan perbuatan jahat tersebut, dan kita yang tidak bersalah dituduh oleh pengadilan. Walaupun demikian, mereka menangkap Kami, dan dari Niyavaran, yang mana dulu merupakan kediaman dari yang Mulia (Bab), mereka menyuruh Kami berjalan dan di rantai, dengan tanpa tutup kepala dan bertelanjang kaki, menuju ke penjara di Kota Tehran. Seorang pria yang kejam, menyertai kami dari atas punggung kuda, dia menyambar tutup kepala kami, sedangkan kami begesa-gesa didorong oleh pasukan pengeksekusi dan para pejabat. Kita ditempatkan selama empat bulan di sebuah tempat yang sangat buruk yang tiada bandingannya. Sebuah penjara yang mana “Seseorang yang Disalahkan” ini dan orang-orang yang disalahkan lainnya dikurung, dalam gelap dan kesempitan. Ketika Kami tiba, pertama kali Kami berjalan disepanjang koridor yang gelap gulita, kemudian Kami menuruni tiga tangga tali curam yang mengantarkan Kami kepada penjara yang diperuntukkan kepada kami. Penjara tersebut terselimuti oleh kegelapan, dan jumlah tahanan yang bersama Kami pada saat itu mencapai seratus lima puluh orang jiwa; para pencuri, para pembunuh dan perampok. Walaupun sangat sesak, tempat itu tidak memiliki pintu lain selain pintu yang telah Kami gunakan untuk masuk. Tidak ada pena yang bisa menggambarkan tempat itu, ataupun tidak ada lidah yang bisa menggambarkan bau tempat itu yang menjijikkan. Hampir semua orang-orang ini tidak memiliki pakaian ataupun tempat untuk tidur. Tuhan sendiri mengetahui apa yang menimpa Kami di tempat yang paling berbau busuk dan suram tersebut!

Siang dan malam, ketika Kami terkurung dalam penjara tersebut, Kami merenungi perilaku, keadaan dan tindakan pengikut Bab, bertanya-tanya apa yang telah membuat orang-orang yang berakal tinggi, yang begitu mulia, dan cerdas ini, melakukan tindakan yang berani dan keterlaluan terhadap seseorang yang Mulia (Bab). Seseorang yang Disalahkan ini, kemudian, memutuskan untuk bangkit, setelah kebebasan-Nya dari penjara, dan melakukan, dengan hati yang paling semangat, sebuah tugas meregenerasi orang-orang ini.

Pada malam hari, di dalam sebuah mimpi kata-kata yang Mulia Tuhan yang maha Esa terdengar dari setiap penjuru: “Sesungguhnya, Kami akan membuat Mu menang oleh DiriMu dan oleh PenaMu. Dukacita Mu bukan untuk apa yang telah menimpa Mu, janganlah Kamu takut, karena Kamu dalam keadaan aman. Segera Tuhan akan membangkitkan harta yang ada di bumi—orang-orang yang akan membantuMu melalui DiriMu dan melalui NamaMu, yang mana Tuhan telah menghidupkan hati orang-orang yang telah mengakui-Nya.”—Epistle to the Son of the Wolf,pp. 20-21.

Pengasingan ke Bagdad

Pemenjaraan yang mengerikkan ini berlangsung selama empat bulan, tetapi Baha’u’llah dan para pengikut-Nya tetap bersemangat dan antusias, dalam kebahagiaan yang paling besar. Hampir setiap hari seorang atau lebih dari mereka disiksa atau dihukum mati dan yang lainnya sadar bahwa giliran mereka mungkin akan segera datang. Ketika seorang pengeksekusi datang untuk mengambil salah satu teman, seseorang yang namanya dipanggil akan menari dengan suka cita, mencium kedua tangan Baha’u’llah, memeluk teman-teman nya yang lain dan dengan cepat dan senang hati menuju tempat kematiannya.

Hal itu akhirnya terbukti bahwa Baha’u’llah tidak ada hubungannya dengan tindakan melawan Shah, dan seorang Menteri Rusia pun bersaksi akan kemuliaan karakter-Nya. Dia, bahkan, sangat cemas mengetahui bahwa Dia akan mati. Sebaliknya, oleh karena itu, alih-alih memberi-Nya hukuman mati, Shah memerintahkan bahwa Dia seharusnya dibuang ke Irak, Arab, di Mesopotamia; dan menuju kesana, dua minggu kemudian, Baha’u’llah berhasil keluar, ditemani oleh keluarga-Nya dan beberapa dari pengikut-Nya yang lain. Mereka sangat menderita karena kedinginan dan kesulitan yang lain selama penjalanan panjang musim dingin dan tiba di Bagdad dalam keadaan sangat miskin.

Segera setelah kesehatan-Nya pulih, Baha’u’llah mulai mengajar ajaran-Nya dan untuk mendorong dan mengajak orang-orang untuk beriman, dan dengan segera kedamaian dan kebahagiaan berada diantara para pengikut Bab. Hal ini, tetapi tidak lama berlangsung. Saudara tiri dari Baha’u’llah, Mirza Yahya, yang juga dikenal sebagai Subh-i-Azal, tiba di Bagdad, dan segera setelah itu, dengan rahasia dia mulai menghasut orang-orang, penghasutan tersebut mulai tumbuh, seperti hal yang sama yang muncul diantara para murid Yesus Kristus. Penghasutan ini (yang mana kemudian, terjadi di Andrianople, menjadi terbuka dan mengandung kekerasan) hal ini menjadi sangat menyakitkan bagi Baha’u’llah, yang seluruh tujuan hidup-Nya adalah untuk mempromosikan persatuan antara seluruh manusia di dunia.

Dua Tahun di Padang Gurun

Sekitar setahun setelah kedatangan-Nya di Bagdad, Ia berangkat sendirian ke padang gurun Sulaymaniyyih, Dia tidak membawa bekal apapun kecuali pakaian ganti. Mengenai periode ini Dia menulis di dalam Kitab Iqan sebagai berikut: —

In the early days of Our arrival in this land, when

We discerned the signs of impending events, We decided,

wilderness, and there, separated and alone, led for two

years a life of complete solitude. From Our eyes there

rained tears of anguish, and in Our bleeding heart there

surged an ocean of agonizing pain. Many a night We had

no food for sustenance, and many a day Our body found

no rest. by Him Who hath My being between His hands!

nothwithstanding these showers of afflictions and unceasing

calamities, Our soul was wrapt in blissful joy, and Our

whole being evinced an ineffable gladness. For in Our

solitude We were unaware of the harm or benefit, the

health or ailment, of any soul. Alone, We communed with

Our spirit, oblivious of the world and all that is therein.

We knew not, however, that the mesh of divine destiny

exceedeth the vastest of mortal conceptions, and the dart

of His decree transcendeth the boldest of human designs.

None can escape the snares He setteth, and no soul can

find release except through submission to His will. By the

righteousness of God! Our withdrawal contemplated no

28

return, and Our separation hoped for no reunion. The one

object of Our retirement was to avoid becoming a subject

of discord among the faithful, a source of disturbance

unto Our companions, the means of injury to any soul,

or the cause of sorrow to any heart. Beyond these, We

cherished no other intention, and apart from them, We

had no end in view. And yet, each person schemed after

his own desire, and pursued his own idle fancy, until the

hour when, from the Mystic Source, there came the summons

bidding Us return whence We came. Surrendering

Our will to His, We submitted to His injunction.

What pen can recount the things We beheld upon Our

return! Two years have elapsed during which Our

enemies have ceaselessly and assiduously contrived to

exterminate Us, whereunto all witness. — Kitáb-i-Íqán,

  1. 250-252.

Yang Artinya :

Pada hari-hari pertama kedatangan Kami di negeri ini, ketika Kami melihat tanda-tanda akan terjadinya suatu peristiwa, Kami memutuskan untuk pergi ke padang gurun, dan disana, terpisah dan sendirian, mengahadapi dua tahun kehidupan yang benar-benar sendiri. Dari mata Kami mengalir deras air mata kesedihan, dan di dalam jantung Kami yang berdarah-darah melonjak lautan perih yang menyiksa. Banyak malam Kami alami tanpa makanan untuk bertahan, dan banyak hari tubuh Kami tidak mendapatkan istirahat. Oleh NYA yang kehidupan Ku ada ditangan Nya! Sekalipun hujan penderitaan dan bencana ini tak ada henti-hentinya, jiwa Kami diselimuti dalam sukacita bahagia, dan perasaan Kami menunjukkan kebahagiaan yang tak terlukiskan. Karena di dalam kesendirian Kami, Kami tidak sadar akan bahaya atau kebaikan, kesehatan atau penyakit, dari jiwa manapun. Sendiri, Kami bersatu dengan semangat Kami, melupakan dunia dan segala isinya. Kami tidak mengetahui, meskipun, kekuatan takdir ilahi melebihi konsepsi manusia yang paling besar, dan anak panah dari keputusan-Nya mentransenden bahkan rancangan manusia yang paling berani. Tidak ada orang yang bisa melarikan diri dari jerat yang telah Dia pasang, dan tidak ada jiwa yang bisa menemukan kebebasan kecuali melalui kehendak-Nya. Dengan kebenaran Tuhan! Penarikan Diri Kami tidak Kami maksudkan untuk kembali, dan pemisahan Diri Kami tidak berharap pertemuan kembali. Satu-satunya objek dari pengunduran Diri Kami adalah untuk menghindari menjadi subjek perselisihan antara umat beriman, menjadi sumber gangguan untuk sahabat-sabahat Kami, menjadi pusat luka untuk jiwa manapun, atau menjadi penyebab kesedihan hati manapun. Selain hal tersebut, Kami tidak mempunyai niatan lain, dan terpisah dari mereka, Kami tidak mempunyai akhir dalam pandangan. Namun, setiap orang bersekongkol dengan keinginan mereka sendiri, dan mengejar kemewahan mereka sendiri, sampai pada jam ketika, dari Sumber Mistik, dari sana datang panggilan-panggilan yang menwarkan Kami untuk kembali kepada tempat dimana Kami Datang. Menyerahkan keinginan Kami kepada kehendak-Nya, Kami berpasrah kepada perintah-Nya. Pena apa yang dapat menceritakan kembali hal-hal yang telah Kami saksikan ketika Kami kembali! Dua tahun telah berlalu selama musuh Kami telah dibuat dengan tak henti-hentinya dan tekun memusnakan Kami, dengan semua saksi.—Kitab-i-Iqan, pp, 250-252.

Perlawanan dari pasa Mulla (Pemuka Agama)

Setelah Dia kembali dari pengasingan, kemahsyuran-Nya menjadi lebih besar dari sebelumnya dan orang-orang dari jauh dan dekat berbondong-bondong pergi ke Kota Bagdad untuk bertemu dengan-Nya dan mendengarkan ajaran-ajaran-Nya. Orang-orang Yahudi, Kristen dan Zoroastrian, beserta orang-orang Muslim pun, menjadi tertarik pada pesan baru. Para Mulla (pemuka agama Islam), namun, bersikap memusuhi dan terus menerus memfitnah yang bertujuan untuk menggulingkan-Nya. Pada kesempatan tertentu mereka mengutus salah satu orang mereka untuk mewawancarai-Nya dan mengajukan kepada-Nya pertanyaan-pertanyaan tertentu. Utusan tesebut menemukan bahwa jawaban dari Bah’u’llah begitu meyakinkan dan kebijaksanaan-Nya begitu menakjubkan, walaupun dengan jelas tidak didasari dengan belajar, bahwa dia harus mengakui pengetahuab dan pemahaman Baha’u’llah tidak ada bandingannya. Agar, walaupun, para Mulla yang telah mengirimnya percaya akan kenyataan Kenabian Baha’u’llah, dia meminta agar beberapa mukjizat harus diciptakan sebagai bukti. Baha’u’llah menyatakan kesediaan-Nya untuk menerima saran tersebut tetapi dengan syarat tertentu, Dia menyatakan bahwa jika para Mulla mengakui mukjizat-mukjizat yang telah Dia lakukan, maka mereka akan menandatangani dan mensegel sebuah dokumen mengenai kebenaran akan mukjizat tersebut mereka akan mengakui keabsahan dari Misi-Nya dan berhenti untuk menentang-Nya

Dia akan memberikan bukti yang diinginkan atau dihukum sebagai seorang penipu. Jika tujuan dari para Mulla adalah untuk mendapatkan kebenaran, pasti inilah kesempatan mereka; tetapi tujuan mereka malah jauh sebaliknya. Benar atau salah, mereka akan memberikan keputusan yang menguntungkan diri mereka sendiri. Mereka takut akan kebenaran dan melarikan diri dari tantangan keberanian. Penggagalan ini, bagaimanapun, hanya menjadikan mereka lebih terpacu untuk merancang rencana-rencana baru untuk memberantas sekte yang tertindas. Konsul Jedral Iran di kota Bagdad bahkan mendatangi asisten Negara Iran dan mengirimkan pesan ulang untuk Shah, menghasut bahwa Baha’u’llah telah sangat melukai agama Muhammad, dan membuat beberapa fitnah tentang Negara Iran, dan oleh karena itu Dia seharusnya dibuang ke tempat yang lebih jauh. Telah menjadi karakteristik Baha’u’llah bahwa, pada krisis ini, ketika tekanan akan Mulla agama Muhammad di Iran dan Pemerintah Turki yang menggabungkan upaya mereka untuk menghentikan gerakan-Nya, Dia tetap bersikap tenang dan tentram, menguatkan dan menginspirasi para pengikut-Nya dan menulis kata-kata yang berkesan mengenai penghiburan dan bimbingan. Abdu’l-Baha menceritakan bagaimana Firman Tersembunyi dituliskan pada saat ini. Baha’u’llah sering pergi untuk berjalan-jalan disepanjang tepi sungai Tigris. Dia akan kembali dan tampak sangat berbahagia dan menuliskan bait-bait permata tentang nasihat yang bijaksana yang telah menolong dan menyembuhkan ribuan hati yang sakit dan bermasalah. Selama bertahun-tahun, hanya sedikit salinan naskah dari Firman Tersembunyi yang tersisa, dan salinan naskah ini harus dijaga dengan sangat hati-hati agar tidak jatuh ke tangan musuh yang begitu banyak, tetapi sekarang sedikit volume dari salinan tersebut yang mungkin paling dikenal sebagai karya tangan Baha’u’llah, dan dibaca di hampir seperempat dunia. Kitab Iqan juga merupakan salah satu karya tulis dari Baha’u’llah yang terkenal mengenai periode yang sama, menjelang hari akhir tinggal-Nya di kota Bagdad (1862-1863 Masehi)

Deklarasi di Kota Ridvan dekat Kota Bagdad

Setelah banyak negosiasi dilakukan, atas permintaan Pemerintah Iran, sebuah perintah yang dikeluarkan oleh Pemerintah Turki memanggil Baha’u’llah ke Konstantinopel. Atas penerimaan perintah ini para pengikut baru-Nya berada dalam ketakutan. Mereka mengelilingi rumah Pemimpin tercinta mereka sampai-sampai keluarga Baha’u’llah harus berkemah di Taman Najib Pasha di luar kota untuk dua belas hari, sedangkan kafilah dipersiapkan untuk perjalanan panjang. Selama dua belas hari tersebut (22 April – 03 Mei 1863, yaitu sembilan belas tahun setelah Deklarasi Bab) Baha’u’llah mengumumkan kepada beberapa pengikut-Nya kabar gembira bahwa Dia merupakan Seseorang yang kedatangannya telah diramalkan oleh Bab—Seorang Pilihan Tuhan, Seseorang yang telah di Janjikan kepada seluruh Nabi. Taman yang menjadi tempat akan Deklarasi yang mengesankan ini dikenal oleh para Baha’I sebagai “Taman Ridvan,” dan hari-hari yang Baha’u’llah habiskan disana diperingati sebagai “Perayaan Ridvan,” yang mana diadakan setiap tanggal ke dua belas hari tersebut. Selama hari-hari itu Baha’u’llah alih-alih menjadi sedih atau depresi, malah menunjukkan kegembiraan terbesar, martabat dan kekuatan. Para pengikut-Nya menjadi bahagia dan antusias, dan banyak kerumunan datang untuk memberikan penghormatan mereka kepada-Nya. Semua tokoh penting dari Kota Bagdad, bahkan Gubenurnya sendiri, datang untuk menghormati keberangkatan tahanan ini.

Konstantinopel dan Andrianopel

Perjalanan menuju ke Konstantinopel berlangsung antara tiga dan empat bulan, rombongan yang terdiri dari Baha’u’llah beserta anggota keluarga-Nya dan dua puluh enam murid. Tiba di Konstantinopel mereka menemukan bahwa mereka ditahan disebuah rumah kecil yang mana tempat itu sangat sesak untuk mereka. Kemudian mereka mendapatkan tempat yang lebih luas, tetapi setelah empat bulan mereka dipindahkan lagi, kali ini ke Andrianopel. Perjalanan menuju ke Andrianopel, meskipun hanya beberapa hari, tetapi merupakan hal yang paling mengerikkan yang pernah mereka alami pada waktu itu. Salju turun sangat lebat hampir setiap waktu, dan mereka kekurangan pakaian yang layak dan makanan, penderitaan mereka begitu ekstrem. Ketika musim dingin pertama di Andrianopel, Baha’u’llah dan keluarga-Nya, yang berjumlah dua belas orang, ditempatkan disebuah rumah kecil dengan tiga kamar, tidak layak dan penuh dengan kutu. Pada musim semi mereka diberi tempat tinggal yang lebih nyaman. Mereka menetap di Andrianopel selama lebih dari empat setengah tahun. Disini Baha’u’llah meresum ajaran-Nya dan mengumpulkan bersama-Nya pengikut yang banyak. Dia mengumumkan misi-Nya secara terang-terangan dan dengan antusias diterima oleh mayoritas para pengikut Bab, yang kemudian dikenal sebagai para Baha’i. Orang-orang minoritas, yang berada dibawah kepemimpinan saudara tiri Baha’u’llah, Mirza Yahya, menentang-Nya dengan keras dan bergabung dengan mantan musuh mereka, orang-orang Shi’ah, dalam merencanakan penggulingan-Nya. Masalah besar pun terjadi, dan akhirnya Pemerintah Turki membuang keduanya yaitu pengikut Bab dan Baha’I dari Andrianopel, mengasingkan Baha’u’llah dan para pengikutnya ke kota Akka, di Palestina, yang mana mereka tiba (menurut Nabil) pada tanggal 31 Agustus 1868, sedangkan Mirza Yahya dan rombongannya dikirim ke Siprus.

Surat untuk para Raja

Selama periode ini Baha’u’llah menulis surat-Nya yang terkenal untuk Sultan Turki, untuk banyak raja di Eropa, untuk Paus, dan untuk Shah di Iran. Kemudian di dalam Kitab Aqdas-Nya Dia juga menuliskan surat yang ditujukan untuk para penguasa lainnya, para penguasa dan Presiden Amerika, para pemimpin agama pada umumnya dan para pemimpin umat manusia pada umumnya. Kepada semua, Dia mengumumkan misi-Nya dan memanggil mereka untuk menyatukan kekuatan untuk pembentukan agama yang benar, pemerintahan dan perdamaian internasional. Di dalam surat-Nya untuk Shah Dia mengatakan kebenaran akan penyebab penganiayaan kepada kaum Babis dan meminta dibawa untuk berhadapan langsung dengan otrang-orang yang telah menghasut penganiayaan mereka. Tak perlu dikatakan lagi, permintaan ini tidak akan terpenuhi; Badi’, seorang Baha’I yang muda dan setia yang bertugas untuk menyampaikan surat dari Baha’u’llah, ditangkap dan dibunuh dengan siksaan yang kejam, batu bata yang panas ditempel kemudian ditekan pada dagingnya! Dalam surat yang sama Baha’u’llah memberikan gambaran yang paling mengharukan mengenai penderitaan dan kerinduaan-Nya:–

Wahai Raja, Saya telah melihat dengan bantuan Tuhan hal yang tiada mata dapat melihatnya dan tiada telinga dapat mendengarnya. Teman-teman telah menyangkal saya; jalan sangatlah sempit teruntuk saya; kolam keselamatan telah mongering; daratan kemudahan telah kering menguning. Betapa banyak bencana yang telah turun, dan betapa banyak lagi yang akan turun! Saya berjalan maju menuju Yang Maha Perkasa, Yang Maha Pemurah, sementara di belakang saya ular sedang merayap. Dari mata saya mengalir deras air mata sampai-sampai tempat tidur pun menjadi basah kuyup; akan tetapi kesedihan saya tidak untuk diri saya sendiri. Karena Tuhan, kepala saya telah terangkat sebagai tombak karena cinta untuk Tuhannya, dan saya tidak pernah melewati sebuah pohon tetapi hati saya mengatakan hal ini, “Oh akankah Engkau menebangnya atas namaku dan tubuhku akan di salib atas Engkau di dalam jalan Tuhanku,” ya, karena saya melihat umat manusia akan tersesat dalam intoksikasi mereka, dan mereka tidak mengetahuinya: mereka telah meninggikan hawa nafsu mereka, dan mengesampingkan Tuhan mereka, bahkan seakan-akan mereka menganggap perintah Tuhan hanya sebagai olok-olokan, sebagai ajang olahraga, dan sebagai barang mainan; dan mereka berpikir bahwa mereka sedang berbuat baik, dan bahwa mereka sedang tinggal dalam banteng keamanan. Hal ini tidak seperti yang mereka kira: pada hari esok mereka akan melihat apa yang telah mereka [sekarang] sangkal.

Kami akan segera berpindah dari tempat pembuangan yang paling terpencil ini [Andrianopel] ke penjara Akka. Dan menurut apa yang telah mereka katakana, tempat itu merupakan tempat paling terpencil dari kota-kota di dunia, tempat paling tidak sedap untuk dipandang, tempat dengan iklim yang paling dibenci, dan dengan air yang paling buruk; tempat itu seolah-olah metropolis para burung hantu; tidak terdengar apapun dari tempat itu kecuali seru-seruan ejekannya. Dan mereka berniat untuk memenjarakankan hamba-hamba, dan menutup pintu kelonggaran tepat di depan muka kami dan mengambil dari kami hal-hal baik dari kehidupan dari dunia yang selama ini ada di hari-hari kami. Demi Tuhan, kelelahan harus melemahkan saya, dan kelaparan harus menghancurkan saya, walaupun sofa saya harus terbuat dari batu yang keras dan teman saya adalah binatang-binatang gurun, saya tidak akan menyerah, tetapi akan bersabar, karena hal yang pasti dan yang harus dipilih adalah sabar, di dalam kekuatan Tuhan, Raja dari Pra-eksistensi, Pencipta bangsa-bangsa; dan dibawah semua keadaan yang saya alami saya bersyukur kepada Tuhan. Dan kami berharap akan rahmat-Nya (Dia adalah yang berhak untuk ditinggikan) … bahwa Dia akan membuat wajah [dari semua manusia] menengadah tulus kepada-Nya, Yang Maha Perkasa dan Yang Maha Pemurah. Sesungguhnya Dia akan menjawab seseorang yang berdoa kepada-Nya, dan Dia dekat kepada seseorang yang memanggil-Nya. Dan kami memohon kepada-Nya untuk membuat bencana yang gelap ini sebagai pembelaan untuk tubuh para orang suci-Nya, dan untuk melindungi mereka dari pedang dan pisau yang menusuk tajam. Melalui penderitaan cahaya-Nya telah bersinar terang dan pujian-Nya bergema tanpa henti: ini telah menjadi metode-Nya sejak masa lampau dan waktu-waktu yang telah lewat. Seorang Penjelajah Narasi (Episode dari Bab), pp. 145-147.

Pemenjaraan di Akka

Pada saat itu Akka merupakan sebuah kota penjara dimana para criminal yang paling buruk dikirim dari seluruh penjuru wilayah kekuasaan Turki. Saat tiba disana, setelah perjalanan di atas laut yang sengsara, Baha’u’llah dan para pengikut-Nya, yang berjumlah sekitar delapan puluh sampai delapan puluh empat, termasuk pria, wanita dan anak-anak, dipenjarakan dibarak tentara. Tempat itu sangat kotor dan sangat tidak menyenangkan. Tidak ada tempat tidur atau kenyamanan apapun. Makanan yang disediakan sangatlah buruk dan tidak memadai, sangat buruk sampai-sampai setelah beberapa waktu para tahanan memohon untuk diizinkan membeli makanan mereka sendiri. Selama beberapa hari pertama anak-anak menangis terus-menerus, dan tertidur merupakan hal yang hampir tidak mungkin. Malaria, disentri dan penyakit-penyakit lain segera muncul, dan semua orang pun jatuh sakit, kecuali hanya dua orang. Tiga orang yang lain meninggal dikarenakan penyakitnya, dan penderitaan mereka pun sungguh tak bisa dilukiskan.

Penjara yang ketat ini berlangsung selama lebih dari dua tahun, selama waktu itu tidak ada satu Baha’I pun yang diizinkan untuk keluar dari pintu penjara, kecuali empat orang pria, yang dijaga dengan sangat ketat, untuk pergi membeli makanan.

Selama pemenjaraan di barak tersebut, pengunjung dilarang untuk datang. Beberapa Baha’I dari Negara Iran datang dengan berjalan kaki sepanjang perjalanan bertujuan untuk bertemu dengan pemimpin tercinta, tetapi mereka ditolak masuk melewati tembok kota. Mereka berdiam diri di atas daratan diseberang parit ketiga, dimana dari tempat tersebut mereka bisa melihat jendela-jendela Baha’u’llah. Dia menunjukkan diri-Nya kepada mereka di salah satu jendela dan setelah menatap Dia dari jauh, mereka menangis dan kembali ke rumah mereka, dengan semangat baru untuk pengorbanan dan pelayanan.

Pengekangan Dikurangi

Pada akhirnya penjara tersebut dilonggarkan. Sebuah mobilisasi dari tentara Turki terjadi dan barak tersebut diperlukan untuk tentara. Baha’u’llah dan keluarga-Nya dipindahkan ke sebuah rumah untu mereka sendiri dan sisa dari rombongan ditempatkan di losmen kota. Baha’u’llah kembali dikurung selama tujuh tahun lagi di rumah ini. Di dalam sebuah ruangan kecil didekat tempat dimana Dia dikurung, tiga belas orang dari keluarga-Nya, yang terdiri dari pria dan wanita, harus bisa menyesuaikan diri sebaik mungkin! Pada saat awal mereka tinggal dirumah ini mereka sangat menderita akan terbatasnya akomodasi, pasokan makanan yang tidak memadai dan kekurangan kebutuhan hidup yang lain. Setelah beberapa waktu, akhirnya, beberapa ruangan ditambahkan di tempat pembuangan mereka tersebut dan mereka bisa hidup dalam kenyamanan komparatif. Semenjak hari dimana Baha’u’llah dan para sahabat-Nya meninggalkan barak, para pengunjung diperbolehkan untuk menemui mereka, dan secara bertahap pembatasan yang menyengsarakan dijauhkan oleh perintah Kerajaaan semakin lama semakin ditunda, sekarang dan kemudian ditunda untuk sementara waktu.

Pintu Penjara Dibuka

Walaupun saat masa pemenjaraan berada pada titik yang paling buruk, para Baha’I tidak pernah kecewa, dan keyakinan mereka tidak pernah terguncang. Ketika Baha’u’llah berada di dalam barak di kota Akka, Dia menulis untuk beberapa orang teman, “Janganlah takut. Pintu ini akan segera terbuka. Tendaku akan segera berdiri di atas Gunung Carmel, dan sukacita yang mendalam akan segera tercapai.” Deklarasi ini merupakan sumber penghiburan yang besar untuk para pengikut-Nya, dan tentu saja karena hal itu akan benar-benar terpenuhi. Cerita akan bagaimana pintu penjara tersebut dibuka diceritakan dengan paling baik dengan kata-kata Abdu’l-Baha, sebagaimana yang telah diterjemahkan oleh cucu-Nya, Shoghi Effendi: —

Baha’u’llah mencintai keindahan dan kehijauan alam Negara. Suatu hari Beliau mengatakan: “Saya tidak memandang kehijauan alam selama Sembilan tahun. Negara ini adalah dunia dari para jiwa, kota ini adalah dunia dari raga.” Ketika saya mendengar secara tidak langsung perkataan ini saya menyadari bahwa Dia dulu sangat merindukan Negara ini, dan saya yakin bahwa apapun yang dapat saya lakukan untuk mewujudkan keinginan-Nya akan berhasil. Pada suatu waktu di Kota Akka seorang pria bernama Muhammad Pasha Safwat, yang mana sangat memusuhi kita. Dia mempunyai sebuah istana bernama Mazra’ih, terletak sekitar empat mil disebelah utara kota, sebuah tempat yang indah, dikelilingi dengan taman dan dengan sungai-sungai kecil. Saya pergi dan memanggil Pasha dirumahnya. Saya berkata: “Pasha, kau telah membiarkan Istanamu kosong, dan kau tinggal di kota Akka.” Dia menjawab: “Saya seorang yang cacat dan saya tidak bisa meninggalkan kota. Jika saya pergi kesana saya akan menjadi kesepian dan saya akan berpisah dengan teman-teman saya.” Saya berkata: “Ketika kau tidak sedang tinggal disana dan tempat itu kosong, biarkanlah tempat itu untuk kami.” Dia sangat terkejut dengan penawaran tersebut, tetapi segera menyetujuinya. Saya mendapatkan rumah itu dengan harga sewa yang sangat rendah, sekitar lima pound per tahun, saya membayarnya selama lima tahun dan membuat sebuah kontrak. Saya mengirim buruh untuk memperbaiki tempat itu dan memperbaiki taman dan untuk membangun kolam mandi. Saya juga telah menyiapkan sebuah kereta untuk digunakan Baha’u’llah (the Blessed Beauty). Suatu hari saya memutuskan untuk pergi dan melihat tempat tersebut dengan diri saya sendiri. Namun demikian sebuah perintah diberikan secara berulang-ulang yang mengatakan bahwa kami tidak mempunyai izin untuk melewati batas tembok kota, saya berjalan terus melalui Gerbang Kota. Beberapa orang sedang dalam penjagaan, tetapi mereka ternyata tidak berkeberatan, lalu saya melanjutkan pergi menuju istana. Hari berikutnya saya berangkat lagi, dengan beberapa teman dan pejabat, tanpa gangguan dan tanpa perlawanan, meskipun para penjaga berdiri di kedua sisi dari gerbang kota. Pada hari yang lain saya merencanakan sebuah perjamuan, menyiapkan meja-meja perjamuan di bawah pohon-pohon pinus Bahji, dan berkumpul melingkar dengan para tokoh dan pejabat kota. Pada sore harinya kami semua kembali ke kota bersama-sama. Suatu hari saya pergi ke Hadirat Suci dari the Blessed Beauty dan berkata: “sebuah istana di Mazra’ih telah disiapkan untuk Mu, dan sebuah kereta akan mengantarkan Mu kesana.” (Pada waktu itu tidak ada satupun kereta di kota Akka maupun Haifa.) Dia menolak untuk pergi, dan berkata: “Aku adalah seorang tahanan.” Kemudian saya memohon kepada-Nya lagi, tetapi saya mendapatkan jawaban yang sama. Saya pergi lagi untuk memohon kepada-Nya untuk ketiga kali, tetapi Dia masih berkata “Tidak!” dan saya tidak berani lagi untuk bersikeras memohon. Pada waktu itu, di kota Akka terdapat seorang Syekh dari agama Islam yang terkenal akan pengaruhnya yang cukup besar, yang mencintai Baha’u’llah dan menjadi seseorang yang sangat disukai Baha’u’llah. Saya memanggil Syekh ini dan menjelaskan keadaan yang terjadi kepadanya. Saya berkata: “Anda adalah seorang yang berani. Pergilah malam ini ke Hadirat Suci-Nya, berlututlah didepan-Nya, peganglah tangan-Nya dan jangan pergi sampai Dia berjanji untuk meninggalkan kota! ” Dia adalah seorang Arab. ….Dia kemudian langsung pergi menemui Baha’u’llah dan duduk didekat lutut-Nya. Dia memegang tangan dari the Blessed Beauty dan menciumnya dan bertanya: “Mengapa engkau tidak mau meninggalkan kota?” Dia berkata: “Aku adalah seorang tahanan.” Haykh itu menjawab: “Tuhan melarang! Siapa yang mempunyai kekuatan untuk menjadikanmu menjadi seorang tahanan? Kau telah mengurung dirimu sendiri di dalam penjara. Itu merupakan keinginanmu sendiri untuk dipenjara, dan sekarang aku memohon kepadamu untuk keluar dan pergi ke istana. Tempat itu sangat indah dan hijau. Pohon-pohonnya sangat indah, dan buah jeruknya terlihat seperti bola-bola api!” Segera the Blessed Beauty berkata: “Aku adalah seorang tahanan, dan aku tidak bisa,” Syekh itu mengambil tangan-Nya lalu menciumnya. Selama satu jam penuh dia terus memohon. Pada akhirnya Baha’u’llah berkata, “Khayli khub (baiklah)” dan kesabaran dan ketekunan Syekh tersebut dihargai. Dia datang kepadaku dengan sukacita yang besar memberitahukan berita tentang pesetujuan dari Yang Mulia. Terhindar dari perintah ketat dari Abdu’l Aziz yang melarang pertemuan saya atau hubungan apapun dengan the Blessed Perfection, saya mengambil kereta pada hari berikutnya dan mengendarainya dengan Dia menuju istana. Tidak ada orang yang berkeberatan. Saya meninggalkan Dia disana dan kembali ke kota.

Selama dua tahun Dia tinggal di tempat yang menarik dan indah tersebut. Kemudian diputuskan untuk berpindah ke tempat lain, di kota Bahji. Tepat pada saat penyakit epidemic menyebar luas di kota Bahji, dan salah satu pemilik rumah dikota tersebut melarikan diri dalam kesulitan, dengan semua keluarganya, dia bersedia untuk menyewakan rumahnya dengan gratis kepada siapapun. Kami menyewa rumah tersebut dengan harga yang sangat rendah, dan disana pintu-pintu keagungan dan kekuatan abadi terbuka lebar. Baha’u’llah meskipun dia merupakan seorang tahanan (atas perintah Sultan Abdu’l Aziz yang tidak pernah dicabut), namun pada kenyataannya Dia menunjukkann kebangsawanan dan martabat yang tinggi di dalam kehidupan-Nya dan Dia begitu dihormati oleh semua orang, dan bahkan Penguasa dari Negara Palestina iri akan pengaruh dan kekuatan yang Dia miliki. Para Gubernur dan Mutasarif, para bejabat umum dan local, akan dengan rendah hati meminta sebuah kehormatan untuk mengunjungi hadirat-Nya—sebuah permintaan yang jarang Dia setujui.

Pada suatu kesempatan seorang Gubernur kota memohon suatu permintaan dengan alasan bahwa ini merupakan sebuah perintah dari otoritas yang lebih tinggi untuk mengunjungi the Blessed Perfection, dengan seorang jendral. Permintaan tersebut dikabulkan, seorang jendral tersebut, yang memiliki tubuh sangat gendut, seseorang dari keturunan Eropa, sangat terkesan dengan hadirat megah Baha’u’llah, dia terus berlutut di atas tanah di dekat pintu hadirat tersebut. Kedua tamu tersebut sangat malu-malu dan segan, bahwa setelah berkali-kali undangan dari Baha’u’llah mereka dengan segan merokok narguileh (pipa-hubble-bubble) yang ditawarkan kepada mereka. Walaupun kemudian mereka hanya meletakkan pipa itu pada bibir mereka, dan lalu, meletakkannya, melipat tangan mereka dan duduk dalam sikap yang rendah hati dan hormat sehingga mengagetkan semua orang yang hadir.

Teman-teman yang baik dan hormat, pertimbangan dan kehormatan yang ditunjukkan oleh seluruh pejabat dan para tokoh, kedatangan terus-menerus dari para peziarah dan para pencari kebenaran, semangat dari pengabdian dan pelayanan yang nyata di sekitar-Nya, perilaku yang mulia dan seperti raja dari the Blessed Perfection, kerfektifan perintah-Nya, semua ini merupakan sebuah bukti bahwa Baha’u’llah sebenarnya bukan seorang tahanan, akan tetapi seorang Raja dari segala Raja.

Kehidupan di Kota Bahji

Menjalani tahun-tahun sebelumnya dengan kesulitan telah menunjukkan bagaimana cara untuk memuliakan Tuhan dalam keadaan miskin dan terhina, Baha’u’llah di dalam tahun-tahun berikutnya di kota Bahji menunjukkan bagaimana cara untuk memuliakan Tuhan dalam keadaan terhormat dan makmur. Sebuah penawaran bahkan dari ratusan ribuan pengikut-Nya yang setia agar Dia mau menjadi pengelola dari dana yang sangat besar. Walaupun kehidupan-Nya di kota Bahji telah digambarkan sebagai kehidupan yang benar-benar agung, digambarkan dalam arti tertinggi dalam kata-kata, namun hal ini tidak boleh dibayangkan bahwa keagungan tersebut identik dengan kemegahan atau pemborosan materi. The Blessed Perfection dan keluarga-Nya hidup dalam kesederhanan dan fashion yang sangat sederhana, dan pemborosan materi untuk kemewahan sendiri merupakan hal yang tidak pernah ada dalam rumah tangga itu. Di dekat rumah-Nya para pengikut-Nya menyiapkan sebuah taman yang indah yang dinamakan Ridvan, yang mana Dia sering menghabiskan banyak hari atau minggu berturut-turut disana, tidur pada malam hari disebuah pondokan kecil di dalam taman. Terkadang Dia juga berpergian lebih jauh. Dia melakukan beberapa kunjungan ke kota Akkad an Haifa, dan lebih dari satu kesempatan Dia mendirikan tenda-Nya di atas Gunung Carmel, seperti yang telah Dia prediksi ketika Dia dipenjara dib arak di kota Akka. Sebagaian besar waktu Baha’u’llah Dia habiskan untuk berdoa dan bermeditasi, menulis Kitab-Kitab Suci, menciptakan Tulisan-Tulisan dalam Tablet, dan dalam pengajaran spiritual teman-teman-Nya. Agar dapat memberikan seluruh kebebasan kepada-Nya untuk melakukan pekerjaan-Nya yang mulia, Abdu’l-Bah mengambil alih urusan-urusan yang lain, bahkan pertemuan dengan para Mulla, penyair, dan anggota-anggota pemerintahan. Semua orang-orang ini sangat senang dan bahagia dengan pertemuan Abdu’l-Baha, dan merasa sepenuhnya puas dan bahagia dengan atas penjelasan dan pembicaraan Abdu’l-Baha, dan walaupun mereka belum pernah bertemu dengan Baha’u’llah sendiri, mereka menjadi berperasaan sangat ramah dengan Nya, melalui perkenalan mereka dengan putra-Nya, karena sikap Abdu’l-Baha membuat mereka memahami bagaimana ayah-Nya.

Terjemahan dari Buku “Baha’u’llah and the New Era” by Dr. Esslemont

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s