Nabi dan Guru Besar Baha’u’llah

Baha’u’llah adalah seorang Nabi Utusan Tuhan yang membawa Ajaran Baru yaitu Baha’i. Para Baha’i percaya bahwa Baha’u’llah adalah jiwa yang suci, yang mendapatkan sinar langsung dari Tuhan yang Maha Esa. Dalam Agama Baha’i Baha’u’llah mengajarkan persatuan seluruh dunia, mencintai semua orang dan menghapuskan semua perbedaan, baik itu perbedaan agama, ras, suku, bangsa, warna kulit, bahasa dsb. Mengajarkan bahwa kita merupakan satu masyarakat dari satu negara yaitu negara planet bumi. Baha’u’llah telah menuliskan banyak sekali tulisan, buku dan kitab yang dijadikan pedoman bagi para Baha’i di seluruh dunia untuk menjalani kehidupan yang bertujuan untuk mewujudkan cinta kasih dan persatuan dunia. Berikut ini adalah kisah kehidupan dari Guru dan Nabi besar Baha’u’llah :

Kelahiran dan Kehidupan Awal

Mirza Husayn Ali, yang kemudian diberi nama Baha’u’llah (yang berarti Kemuliaan Tuhan), adalah putra sulung dari Mirza Abbas bin Nur, seorang Vazir atau Menteri Negara. Keluarga-Nya adalah keluarga yang kaya dan terhormat, banyak dari anggota keluarga-Nya menjabat dalam posisi penting di Pemerintahan dan di dalam pelayanan Sipil dan Militer Negara Iran. Dia dilahirkan di Kota Tehran, ibukota Iran, diantara fajar dan matahari terbit pada tanggal 12 November 1817. Dia tidak pernah duduk di bangku sekolah maupun bangku perkuliahan, dan sedikit pendidikan yang Dia terima, dia dapatkan di rumah. Walaupun demikian, ketika Dia masih sebagai seorang anak, Dia telah menunjukkan kebijaksanaan dan pengetahuan yang luar biasa. Ketika Dia masih berusia muda ayah-Nya meninggal dunia, meninggalkan tanggung jawab kepada-Nya untuk menjaga saudara-saudara-Nya yang lebih muda, dan juga untuk mengelola perkebunan milik keluarga.

Pada suatu kesempatan Abdu’l Baha, putra sulung dari Baha’u’llah, menuliskan keterangan berikut ini mengenai masa kehidupan awal ayah-Nya: —

Sejak kecil Dia sangat baik dan murah hati. Dia adalah pecinta alam yang luar biasa, sebagian besar waktu-Nya Dia habiskan di kebun atau di ladang. Dia mempunyai daya tarik yang besar, yang dirasakan semua orang. Orang-orang selalu berkerumun di dekat-Nya. Para Menteri dan orang-orang dari Pengadilan selalu mengerumuninya, dan anak kecil pun senang berada didekatnya. Ketika Dia baru berusia tiga belas atau empat belas tahun Dia terkenal akan pembelajaran-Nya. Dia akan berbicara mengenai subjek apapun dan memecahkan semua masalah yang disampaikan kepada-Nya. Dalam pertemuan-pertemuan besar Dia akan berdiskusi dengan para Ulama (Imam terkemuka) dan akan menjelaskan mengenai pertanyaan-pertanyaan agama yang rumit. Semua orang akan mendengarkan-Nya dengan seksama.

Ketika Baha’u’llah berusia dua puluh dua tahun, ayah-Nya meninggal dunia, dan Pemerintah berharap bahwa Dia akan menjadi penerus ayah-Nya sebagai seorang Menteri, sebagaimana adat di Negara Iran, tetapi Baha’u’llah tidak menerima tawaran tersebut. Kemudian Perdana Menteri mengatakan: “Biarkan dia dengan keputusannya. Posisi ini tidak layak untuknya. Dia mempunyai tujuan lain yang lebih tinggi. Saya tidak bisa mengertinya, tetapi saya yakin bahwa dia ditakdirkan untuk jabatan yang tinggi. Pemikiran yang dimiliki-Nya tidak seperti kepunyaan kita. Biarkan dia.”

Terjemahan dari Buku “Baha’u’llah and the New Era” by Dr. Esslemont

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s