Sejarah Perjalanan BAB

Bab adalah seseorang yang menyampaikan kabar gembira mengenai akan datangnya seorang Nabi yang membawa ajaran dan agama baru. Nabi tersebut adalah Baha’u’llah yang datang membawa Agama Baha’i yang akan menuntun kedalam persatuan dan perdamaian dunia. Berikut ini adalah kisah perjalanan Bab yang sarat akan penderitaan dan perjuangan, yang diambil dan diterjemahkan dari Buku ” Baha’u’llah and the New Era” oleh Dr. J.E. Esslemont.

“Apa yang dia maksudkan mengenai istilah Bab ini ialah, bahwa ia adalah penghubung kasih karunia dari seseorang yang Mulia yang masih berada di balik tabir kemuliaan, yang memiliki kesempurnaan yang tak terhitung jumlahnya dan tak terbatas, yang kepadanya dia akan berpindah, dan kepada ikatan cinta yang berada dalam dirinya.” – Seorang Penjelajah Narasi.

Tempat Kelahiran Wahyu Baru

Iran, merupakan tempat kelahiran Wahyu Agama Baha’I, yang telah menduduki salah satu tempat terunik dalam rangkaian sejarah dunia. Pada hari-hari awal kekuasaannya Iran merupakan seorang ratu yang benar-benar berkuasa diantara bangsa-bangsa di dunia, yang tak tertandingi dalam peradaban, dalam kekuasaan dan dalam kemegahan. Dia telah memberikan kepada dunia raja-raja dan negarawan yang hebat, para nabi dan penyair, filsuf dan seniman. Zoroaster, Cyrus dan Darius, Hafiz dan Firdausi, Sa’di dan Umar Khayyam adalah beberapa dari banyak anaknya yang terkenal. Iran adalah pengrajin yang tak tertandingi dalam ketrampilan, karpet yang tiada bandingannya, pisau baja yang tak tertandingi dan tembikar miliknya adalah yang paling terkenal didunia. Di semua bagian Dekat dan Timur Tengah dia telah meninggalkan jejak-jejak kebesarannya.

Namun pada abad kedelapan belas dan kesembilan belas dia tenggelam ke dalam kondisi degradasi yang menyedihkan. Kemuliaan yang ia miliki sebelumnya nampak terus-menerus hilang. Pemerintahannya korup dan dia putus asa dalam permasalahan ekonomi; beberapa penguasanya lemah dan beberapa yang lain merupakan monster yang kejam. Para Imamnya berubah menjadi fanatik dan tidak toleran, semua rakyatnya bodoh dan mempercayai takhayul.

Kebanyakan dari mereka memeluk kepercayaan Syi’ah dari Muhammad, namun banyak juga dari mereka yang memeluk agama Zoroastrian, Yahudi dan Kristen, didalam agama-agama tersebut mereka memiliki beragam sekte dan antagonis. Semua kepercayaan yang mereka anut mengikuti guru luhur mereka untuk menyembah satu Tuhan dan hidup dalam kasih dan persatuan, tetapi mereka saling menjauh dan membenci satu sama lain, masing-masing sekte menganggap sekte lain sebagai orang yang kotor, seperti anjing atau seperti orang-orang kafir. Hinaan dan penganiayaan merupakan sebuah ketakutan bagi orang-orang.

Pada saat itu sangat berbahaya bagi para Yahudi dan Zoroastrian berjalan sendirian pada hari hujan, karena jika pakaian mereka basah dan ketika mereka menyentuh orang muslim, maka orang muslim tersebut dianggap menjadi najis (kotor), dan bahkan beberapa dari mereka harus membayar pelanggaran tersebut denga nyawanya. Jika seorang pengikut Muhammad ingin mengambil uang dari seorang Yahudi, Zoroastrian atau seorang Kristiani ia harus mencuci uang tersebut terlebih dahulu sebelum ia bisa memasukkannya didalam saku. Jika seorang Yahudi menemukan anaknya memberikan segelas air kepada seorang muslim yang miskin dia akan langsung menyingkirkan gelas itu dari tangan anaknya, karena menurutnya orang kafir lebih membawa kutukan dari pada kebaikan.

Orang-orang muslim itu sendiri dibagi menjadi beberapa sekte, diantara mereka sering terdapat perselisihan yang pahit dan sengit. Para pemeluk Zoroaster tidak terlibat banyak dalam keadaan saling tuduh ini, tetapi mereka tinggal dalam komunitas yang terpisah, menolak untuk bergaul dengan rekan-rekan senegara mereka dari agama lain.

Keadaan sosial dan agama pada saat itu di Iran berada dalam kondisi menyedihkan. Pendidikan terabaikan. Ilmu pengetahuan dan seni dari Negara Barat dipandang sebagai najis (noda kotar) dan bertentangan dengan ajaran agama. Keadilan dijungkirbalikan. Penjarahan dan perampokan sangat sering terjadi. Jalan-jalan berubah menjadi berbahaya. Pengaturan sanitasi pun rusak parah.

Akan tetapi, meskipun dengan semua ini, cahaya kehidupan spiritual tidak pernah padam di Iran. Disana-sini ditengah orang-orang yang hanya memikirkan hal duniawi dan takhayul, kita masih bisa menemukan beberapa jiwa yang suci, beberapa hati yang dirahmati yang masih memiliki kerinduan akan Tuhan, seperti hati dan jiwa yang dimiliki Anna dan Simon sebelum kedatangan Yesus Kristus. Pada saat itu di Iran banyak orang tidak sabar menunggu kedatangan dari seseorang yang dijanjikan Tuhan, dan mempercayai bahwa waktu kedatangan tersebut sudah sangatlah dekat. Begitulah keadaan di Iran ketika BAB, seorang Pahlawan dari era baru, yang megakhiri seluruh keributan di Negara tersebut dengan pesan-Nya.

Kehidupan Awal Bab

Mirza Ali Muhammad, yang kemudian dikenal sebagai “Awal dari Perjalanan” atau “BAB” (sebuah gerbang), dilahirkan di Kota Shiraz, di bagian selatan Negara Iran, pada tanggal 20 Oktober 1819. Dia merupakan seorang Siyyid, yaitu keturunan dari nabi Muhammad. Ayahnya, seorang pedagang yang terkenal, meninggal dunia tepat setelah kelahiran-Nya, dan kemudian Dia dirawat dan dibesarkan oleh seorang paman dari ibunya, seorang pedagang terkenal di Shiraz, yang kemudian mengangkat kehidupannya. Pada masa kecil Dia belajar membaca, dan menerima pendidikan dasar untuk anak-anak. Ketika Dia berusia lima belas tahun dia pergi melancong untuk berbisnis, pada awalnya Dia pergi bersama paman-Nya, tetapi kemudian Dia pergi bersama paman-Nya yang lain yang tinggal di Kota Bushihr, di pantai Teluk Persia.

Sebagai seorang pemuda Dia tersohor dikarenakan kemuliaan pribadinya dan kebaikan akhlaknya, dan juga kesalehannya yang luar biasa, dan karakternya yang bagaikan bangsawan. Dia selalu teguh dalam ketaatannya dalam doa, berpuasa dan tata cata peribadatan dalam Agama Islam, dan Dia tidak hanya mematuhi tata cara hidup menurut Agama Islam, tetapi dia juga hidup bersama semangat Ajaran Nabi Muhammad. Dia menikah ketika berusia dua puluh dua tahun. Dari pernikahan ini lahirlah seorang putra, yang meninggal saat masih bayi, ketika itu adalah saat tahun pertama pelayanan-Nya menjadi BAB.

Pernyataan

Ketika usia-Nya mencapai dua puluh lima tahun, sebagai bentuk ketaatannya dalam menjalankan perintah, Dia menyatakan bahwa “Allah Tuhan yang maha Esa telah memilih-Nya untuk masuk ke dalam Jalan Ke-Bab-an (Babhood).” Dia menyatakan bahwa dirinya telah ditunjuk oleh Tuhan untuk menjadi Bab, seseorang yang menjadi penghubung kasih karunia dari seseorang yang Mulia yang masih berada di balik tabir kemuliaan.

Pada hari-hari keyakinan tersebut penampilan dan perbuatannya sangat menyerupai dengan seorang Utusan Ilahi sehingga di kalangan sekte-sekte dia dikenal dengan nama Shaykhis, dan di dalam sektenya,dia dikenal sebagai Mulla Husayn Bushru’i, ketika Bab untuk pertama kali menyatakan misi-Nya. Tanggal pasti dari pengumuman ini telah tertulis di Bayan, salah satu dari tulisan Bab, yaitu dua jam dan sebelas menit setelah matahari terbenam, pada malam sebelum hari kelima bulan Jumadil Awal tahun 1260 H . Abdu’l Baha dilahirkan pada pertemuan malam yang sama, namun jam pasti dari kelahiran-Nya masih belum dapat dipastikan.

Setelah beberapa hari berada dalam kecemasan dan kegusaran, Mulla Husayn menjadi sangat yakin bahwa seorang Nabi yang telah lama dinantikan oleh orang-orang Shi’ah memang telah muncul. Antusiasme-Nya yang tinggi akan penemuan tersebut segera diumumkan oleh beberapa temannya. Tidak lama kemudian mayoritas dari pengikut Shaykhis menerima Bab, orang-orang tersebut dikenal sebagai Babis; dan segera setelah itu kemahsyuran seorang Nabi muda berkobar seperti api diseluruh negeri.

Penyebaran dari Gerakan para Babis

Delapan belas murid pertama dari Bab (sembilan belas bersama dengan diri-Nya) dikenal sebagai “Surat Kehidupan.” Para murid ini Dia kirimkan ke berbagai daerah di Iran dan Turki untuk menyebarkan berita tentang kemunculan-Nya (Nabi Baha’u’llah). Sementara Dia sendiri pergi untuk berziarah ke kota Mekkah, dimana dia tiba pada bulan Desember 1844, dan secara terbuka menyatakan misinya. Ketika Dia kembali ke kota Bushihr terdapat kegembiraan besar disebabkan oleh pernyataan ke-Bab-an (Babhood) Nya.

Api dari kefasihan-Nya, keajaiban tulisan-tulisan Nya yang menginspirasi, kebijaksanaan dan pengetahuan-Nya yang luar biasa, keberanian dan semangat-Nya sebagai seorang reformis, membangkitkan antusiasme besar nagi para pengikut-Nya, tetapi kegembiraan tersebut merupakan sebuah alarm permusuhan bagi para Muslim fanatik. Seorang doktor Shi’ah bersikeras mengecam-Nya, dan berusaha untuk membujuk Gubernur Kota Fars, yang bernama Husayn Khan, seorang yang fanatik dan penguasa tirani, untuk membasmi ajaran baru yang sesat tersebut. Lalu pada saat itu dimulailah serangkaian panjang pemenjarahan, deportasi, ketidakadilan, penganiayaan dan hinaan kepada Bab, yang berakhir dengan kematian-Nya pada tahun 1850.

Pernyataan dari Bab

Permusuhan besar yang terjadi karena pernyataan Bab dilipatgandakan ketika seorang reformis muda melanjutkan untuk menyatakan bahwa Dia (Bab) merupakan Imam Mahdi yang mana Nabi Muhammad telah meramalkan kedatangannya. Para pemeluk Shi’ah menganggap bahwa Imam Mahdi ini adalah Imam kedua belas yang menurut kepercayaan mereka, telah dengan misterius menghilang dari hadapan manusia sekitar seribu tahun yang lalu. Mereka percaya bahwa dia masih hidup dan akan muncul kembali dalam tubuh yang sama seperti sebelumnya, dan mereka (orang-orang Shi’ah) dapat menafsirkan apakah seseorang itu adalah Imam Mahdi dengan melihat nubuat tentang kekuasaan-Nya, kemuliaan-Nya, penaklukan-Nya dan tanda-tanda dari kemunculan-Nya, seperti halnya para Yahudi pada masa Kristiani menafsirkan nubuat yang sama tentang Messiah.

Orang-orang Shi’ah itu berharap bahwa Imam Mahdi akan muncul dengan kekuasaan duniawi dan tentara yang tak terhitung jumlahnya dan menyatakan wahyunya, bahwa dia akan membangunkan orang mati dan menghidupkannya kembali, dan seterusnya. Ketika pertanda-pertanda tersebut tidak muncul dari Bab, para pemeluk Shi’ah menolak Bab dengan hinaan yang sama seperti para Yahudi melakukan hal tersebut terhadap Yesus Kristus.

Para pengikut Bab, sebaliknya, menafsirkan banyak pengertian lain mengenai nubuat tersebut. Mereka menganggap kekuasaan dari Seseorang yang Dijanjikan, seperti kekuasaan Galilean “The Man of Sorrows,” sebuah kekuasaan yang mistis; menafsirkan kemuliaan-Nya seperti kemuliaan spiritual, bukan kemuliaan duniawi; penaklukan-Nya adalah penaklukan atas kota-kota dari hati para manusia dan mereka menemukan bukti nyata akan semua hal itu dari Bab dalam keindahan kehidupan dan ajaran-Nya, Iman-Nya yang kuat, ketabahan-Nya yang kokoh, dan kekuatan-Nya untuk membangkitkan mereka ke dalam sebuah kehidupan spiritual baru yang telah lama terkubur di dalam kesesatan dan kebodohan.

Tapi Bab tidak berhenti walaupun dengan penolakan mengenai Mahdi tersebut. Dia mengadopsi sebuah nama suci “Nuqtiyiula” yang berarti “Pusat Utama,” Ini merupakan sebuah nama yang diberikan kepada Nabi Muhammad oleh para pengikut-Nya. Mengenai nama ini, Bab menganggap bahwa kondisi-Nya saat itu sama dengan Muhammad dan serangkaian Pendiri besar Agama yang lain, dan karena alasan ini, dimata orang-orang Shi’ah, Dia adalah seorang penipu, seperti halnya Musa dan Yesus. Dia bahkan meresmikan sebuah kalender baru, mengembalikan lagi tahun matahari, dan menyatakan bahwa sebuah Era Baru telah dimulai semenjak Dia mengumumkan Deklarasi-Nya.

Penganiayaan Meningkat

Dalam konsekuensi pernyataan akan ke-Bab-annya dan yang mana menciptakan alarm yang dengan cepat menyebar ke seluruh penjuru, bahkan orang-orang dari seluruh golongan kasta, kaya dan miskin, terpelajar dan bodoh, sangat bersemangat menanggapi ajaran yang dibawa-Nya, hal ini menjadikan upaya pengecaman menjadi lebih kejam dan serius. Rumah-rumah dijarah dan dihancurkan. Para wanita dirampas dan dibawa pergi. Di Tihran, Fars, Mazindaran, dan di tempat-tempat lainnya banyak sekali pengikut Bab yang dihukum mati. Banyak dari mereka yang dipenggal, digantung, diledakkan dengan meriam, dibakar hidup-hidup dan dicincang berkeping-keping. Walaupun segala upaya telah dilakukan, bagaimanapun, gerakan dari Babis (Pengikut BAB) tetap saja berkembang. Tidak! melalui penindasan yang kejam ini rasa percaya yang dimiliki para pengikut semakin meningkat, bahkan banyak nubuat mengenai kedatangan Imam Mahdi ini secara harfiah terpenuhi. Dalam sebuah kisah yang direkam oleh Jabir, yang mana orang-orang Shi’ah percaya kisah ini adalah otentik, yaitu: —

Dalam diri-Nya terdapat kesempurnaan Nabi Musa, kemuliaan Yesus, dan ketekunan Nabi Ayub; orang-orang suci milik Tuhan akan direndahkan pada masanya, dan kepala-kepala mereka akan diburu dan disajikan, bahkan kepala-kepala orang Turki dan Deylamite akan ditukarkan dengan hadiah; mereka akan dibunuh dan dibakar, mereka akan menjadi ketakutan, cemas dan gelisah; bumi akan dicelup dengan darah mereka, dan ratapan-ratapan akan datang dari para wanita mereka; orang-orang ini memang adalah orang yang suci. – Sejarah Baru dari Bab.

Kematian Bab

Pada tanggal 9 Juli 1850, Bab yang pada saat itu menginjak usia 30 tahun, menjadi korban kebencian fanatik para penganiaya-Nya. Dengan pengikut setia-Nya yang masih muda bernama Aqa Muhammad Ali, yang memohon untuk diizinkan berbagi penderitaan dan kematian bersama-Nya, Dia dibawa ke barak di tengah Kota Tabriz. Sekitar dua jam sebelum tengah hari keduanya ditahan dengan tali pengikat dibawah lengan mereka, dengan kepala Muhammad Ali bersandar pada dada Guru suci tercintanya. Sebuah pasukan tentara Armenia dibentuk untuk menerima perintah penembakan. Segera setelah itu suara tembakan berbunyi, ketika asap tembakan telah menghilang, ternyata Bab dan murid-Nya masih hidup. Peluru tembakan ternyata mengenai tali pengikat yang mana akhirnya membuat mereka terlepas dan jatuh ke tanah.

Bab kemudian dibawa ke dalam penjara, yang mana Dia dapat berbicara dengan salah seorang teman-Nya. Sekitar tengah hari mereka dieksekusi lagi. Para tentara Armenia, yang menganggap hasil tembakan mereka tadi merupakan sebuah keajaiban, menolak untuk melakukan tembakan lagi, sehingga pasukan tentara lain yang akan menembak, yang kemudian dibawa ke tempat eksekusi. Kali ini tembakan mereka berhasil. Mayat dari keduanya penuh dengan tembakan peluru dan dimutilasi secara kejam, tetapi wajah mereka hampir tak tersentuh.

Dengan kejadian mengerikan ini Barak di tengah Kota Tabriz menjadi Kalvari kedua. Para musuh Bab menikmati kemenangan mereka, menganggap bahwa pohon kebencian dari Agama Bab telah dihancurkan sampai ke akarnya, dan mereka menganggap bahwa pemberantasan selanjutnya akan menjadi lebih mudah! Tetapi kemenangan mereka tidak bertahan lama! Mereka tidak menyadari bahwa Pohon Kebenaran tidak bisa ditebang dengan kapak duniawi. Mereka tidak mengetahui, bahwa kejahatan besar mereka telah menimbulkan semangat yang lebih besar bagi Ajaran Agama Bab. Kematian Bab menyempurnakan harapan-Nya yang berharga dan menginspirasi para pengikut-Nya untuk meningkatkan semangat mereka. Bahwa angin dari penganiayaan kejam itu justru mengipasi api semangat mereka, seperti itulah api antusiasme mereka : semakin besar upaya untuk memusnakan, semakin besar api berkobar.

Makam di Gunung Karmel

Setelah kematian Bab, jenazah-Nya, dan jenazah seorang pengikut setia-Nya, dilemparkan kedalam jurang di luar tembok kota. Pada malam kedua setelah hari eksekusi, tepat pada tengah malam mereka diselamatkan oleh beberapa Babis, dan setelah itu jenazah Bab dan pengikut-Nya disembunyikan selama beberapa tahun di tempat rahasia di Iran, pada akhirnya jenazah mereka dibawa dengan sangat sulit dan berbahaya, ke Tanah Suci. Disana mereka dikebumikan di sebuah makam indah yang terletak di lereng Gunung Karmel, tidak jauh dari Gua Eliah, dan hanya berjarak beberapa mil dari tempat dimana Baha’u’llah menghabiskan tahun-tahun terakhir-Nya dan dimana jenazah-Nya kini berbaring. Diantara ribuan penziarah dari seluruh penjuru dunia yang datang untuk memberikan penghormatan di Makam Suci Baha’u’llah, tidak ada yang melewatkan untuk berdoa di tempat suci kekasih setia-Nya dan seorang pendahulu, yaitu Bab.

Terjemahan dari Buku ” Baha’u’llah and the New Era” oleh Dr. J.E. Esslemont.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s